Jurus Mendag Stabilkan Harga Telur

BeritaLokal, Cianjur – Pemerintah mempercepat upaya stabilkan harga telur ayam di pasar lokal, mengatasi kenaikan harga yang terjadi akibat surplus 12 persen. Kementerian Perdagangan (Kemendag) bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mendorong penyerapan komoditas hasil peternakan melalui program strategis, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain itu, pemerintah juga memperluas langkah ini ke dalam Bantuan Pangan Nasional, dengan menawarkan opsi alternatif untuk menyerap komoditas yang mengalami surplus. Kepala BGN menyatakan bahwa program bantuan pangan akan berbasis harga, sehingga ketika harga telur turun, bantuan bisa berupa telur sendiri, bukan bahan pokok lain. “Tujuannya agar hasil produksi peternak tetap memiliki pangsa pasar yang jelas,” terang Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam wawancara.

Kondisi di lapangan memang cukup mengejutkan. Ratusan peternak di Kabupaten Blitar sempat menggelar aksi solidaritas, membagikan 1 juta butir telur gratis karena harga jual turun tajam hingga Rp20.000-Rp21.000/kg. Dalam situasi ini, penyerapan masif melalui SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) di wilayah yang mengalami oversuplai menjadi kunci menjaga stabilitas harga.

Diketahui, produksi telur nasional saat ini melebihi kebutuhan masyarakat sekitar 12 persen. Dengan demikian, pemerintah berharap penyerapan komoditas melalui program MBG dan Bantuan Pangan Nasional dapat mengatasi kenaikan harga yang terjadi di tingkat peternak. “Kita tak hanya fokus pada telur, tetapi juga daging ayam jika harga turun,” tambah Budi.

Langkah ini diterapkan tidak hanya pada telur, tapi juga pada komoditas lain seperti ayam dan daging ayam. Dengan mendorong penyerapan masif melalui SPPG, pemerintah berharap bisa menjaga kesejahteraan peternak sambil memastikan pasokan domestik stabil. “Kita perlu menyeimbangkan antara pasokan dan permintaan,” kata Budi.

Sementara itu, dalam aksi solidaritas di Blitar, harga telur di tingkat peternak merosot tajam ke level yang jauh berada di bawah biaya produksi rata-rata Rp24.000/kg. Dengan kinerja penyerapan komoditas melalui SPPG yang lebih efektif, pemerintah optimistis bisa mengatasi kenaikan harga secara masif tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap peternak lokal.

Artikel Terkait

0