Pendiri Strategy Michael Saylor mengungkapkan penyebab harga bitoin yang tertekan selama sepekan terakhir. Salah satunya rotasi modal investor.
PerbesarMichael Saylor dalam Konferensi Bitcoin, Kamis, 7 April 2022, di Miami Beach, Florida. (Foto AP/Rebecca Blackwell)
, Jakarta – Pendiri Strategy Michael Saylor menilai, koreksi harga bitcoin (BTC) didorong rotasi modal ke saham perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Berdasarkan data coinmarketcap.com, Jumat, (3/6/2026), harga bitcoin (BTC) turun 0,72% dalam 24 jam terakhir. Harga bitcoin kini berada di USD 62.777 atau Rp 1,13 miliar (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 18.060). Sedangkan selama sepekan terakhir, harga bitcoin merosot 14,32%.
Mengutip Yahoo Finance, Executive Chairman Strategy, Michael Saylor menulis di platform media sosial X, dahulu bernama Twitter menyebutkan, investor berbondong-bondong ke saham AI dengan kecepatan luar biasa. Hal itu mengakibatkan investor meninggalkan kripto.
Ia menuturkan, investor institusi menarik uang dari bitcoin dan investasi di infrastruktur AI. Di mana US$ 400 miliar atau Rp 7.223 triliun telah diinvestasikan dalam enam bulan terakhir yang menyebabkan koreksi harga bitcoin.
Namun, Saylor tetap optimistis terhadap bitcoin. “Volatilitas menciptakan peluang,” kata dia.
Adapun Strategy tetap menjadi pemegang bitcoin terbesar di dunia. Strategy memegang 843.706 bitcoin dengan nilai US$ 53 miliar atau Rp 957,15 triliun.
Saylor menggunakan media sosial setelah perusahaannya pekan lalu menjual 32 Bitcoin dengan hasil penjualan US$ 2,5 juta atau Rp 45,14 miliar. Ini adalah penjualan BTC pertama perusahaan dalam empat tahun dan telah mengguncang banyak investor.
Para analis mengkritik penjualan Bitcoin Strategy baru-baru ini. Analis mengatakan, hal itu telah memperburuk sentimen bearish dan mempercepat aksi jual saat ini di kripto.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto.tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Bayar Dividen, Strategy Jual 32 Bitcoin
PerbesarIlustrasi Bitcoin. (Foto: Unsplash/Thought Catalog)
Sebelumnya, Strategy (MSTR), yang dikenal sebagai korporasi pemegang Bitcoin terbesar di dunia, mengonfirmasi telah menjual 32 Bitcoin (BTC) untuk membiayai pembayaran dividen saham preferen STRC. Langkah tersebut dilakukan di tengah upaya perusahaan menjaga keseimbangan antara kepemilikan aset kripto dan kewajiban kepada para pemegang saham.
Dalam dokumen yang diajukan kepada regulator, dikutip dari CoinMarketCap, Selasa S(2/6/2026), trategy menjelaskan bahwa penjualan Bitcoin tersebut digunakan untuk mendukung pembayaran dividen bulanan bagi investor yang memiliki saham preferen STRC.
Selain menjual sebagian kecil cadangan Bitcoin, perusahaan juga berhasil menghimpun dana sekitar USD 128,3 juta melalui penjualan 801.994 lembar saham biasa.
Per 31 Mei 2026, Strategy tercatat masih memiliki 843.706 BTC. Jumlah tersebut membuat perusahaan tetap menjadi salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia.
Saham preferen STRC sendiri merupakan instrumen investasi yang dirancang untuk memberikan dividen variabel setiap bulan dengan target imbal hasil tahunan sebesar 11,5%.
Besaran dividen yang diterima investor dapat berubah mengikuti harga perdagangan saham STRC dibandingkan nilai nominalnya yang berada di level USD 100 per saham.
Sesuai Kondisi Pasar
PerbesarIlustrasi bitcoin (Foto: Unsplash/Aleksi Raisa)
Mekanisme STRC dirancang agar tingkat dividen dapat menyesuaikan kondisi pasar.
Jika saham STRC diperdagangkan di atas nilai nominal USD 100, tingkat dividen akan menurun. Sebaliknya, apabila harga saham berada di bawah USD 100, tingkat dividen akan meningkat.
Pembayaran dividen tersebut bersumber dari kas perusahaan.
Dalam praktiknya, Strategy hanya menggunakan dana hasil penerbitan saham STRC untuk membeli Bitcoin tambahan ketika harga saham tersebut diperdagangkan di atas nilai nominalnya.
Namun, saat harga STRC berada di bawah USD 100 seperti yang terjadi pekan lalu, perusahaan harus mengandalkan cadangan kas untuk memenuhi kewajiban pembayaran dividen kepada investor.
Struktur tersebut menciptakan hubungan langsung antara kinerja pasar saham STRC dengan strategi akumulasi Bitcoin yang dijalankan perusahaan.
Dengan kata lain, kemampuan Strategy membeli Bitcoin tambahan sangat dipengaruhi oleh performa saham preferen tersebut di pasar.
