Indonesia Menembus Rantai Pasok Pertambangan Global, Strategi Pemimpin Muncul

BeritaLokal, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam tata kelola pertambangan nasional seiring meningkatnya tuntutan pasar global terhadap praktik pertambangan yang berkelanjutan. Langkah ini ditetapkan untuk memastikan bahwa Indonesia tetap bersaing di pasar internasional, khususnya dalam industri energi dan teknologi.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin, menjelaskan bahwa penguatan ESG menjadi penting karena standar keberlanjutan tidak lagi sekadar kepatuhan, melainkan faktor penentu daya saing. “Pasar global saat ini menilai kualitas produk mineral dan bagaimana mineral tersebut diproduksi,” kata Cecep dalam wawancara dengan Antara, Senin (22/6/2026).

Dalam proses evaluasi dan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan pertambangan, pemerintah mulai mengintegrasikan aspek ESG. Dari sisi sosial, perusahaan diwajibkan melaksanakan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang disusun bersama pemerintah daerah. Sementara itu, dari sisi lingkungan, perusahaan harus meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi, memperkuat pengelolaan limbah dan air tambang, serta menjalankan reklamasi dan pascatambang secara bertanggung jawab.

Selain itu, beberapa perusahaan tambang juga menerapkan ESG melalui standar seperti IRMA (Initiative for Responsible Mining Assurance) dan mengoptimalisasi penggunaan energi bersih. Kementerian ESDM sedang melakukan kajian untuk menyelaraskan standar nasional dengan praktik ESG global, terutama dalam menyelesaikan kesenjangan antara regulasi domestik dan standar internasional.

Cecep menjelaskan bahwa tantangan industri pertambangan di masa depan bukan hanya mengandalkan peningkatan produksi tetapi juga memenuhi standar keberlanjutan yang dituntut pasar internasional. “Pasar global sedang bergerak menuju praktik pertambangan berkelanjutan, sehingga ESG bukan lagi sekadar kepatuhan, tapi faktor penentu daya saing dan akses pasar,” katanya.

Indonesia memiliki cadangan mineral strategis seperti nikel, tembaga, timah, dan bauksit yang menarik minat perusahaan global. Penerapan ESG diharapkan memperkuat keunggulan industri pertambangan Indonesia dalam ekspor bahan baku untuk sektor kendaraan listrik, energi bersih, dan manufaktur teknologi. Dengan demikian, pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung perusahaan pertambangan melalui kriteria yang ketat namun manusiawi.

Pewawancara menegaskan bahwa penguatan ESG adalah langkah strategis dalam menghadapi tekanan pasar dan menjaga keberlanjutan ekonomi nasional.

error: Content is protected !!