Indonesia Capai Rekor Pencapaian Produksi Beras 2026 Sementara Produksi Dunia Mengalami Penurunan

BeritaLokal, Jakarta – Selain menghadapi tekanan pasar global, Indonesia kembali menunjukkan keunggulan di sektor pertanian dengan pencapaian rekor produksi beras 2026/2027. Menurut laporan FAO, produksi beras dunia pada musim panen 2026/2027 diproyeksikan turun 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton, meski Indonesia tetap memegang rekor tertinggi dalam sejarah.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan, “Ketika dunia memanen lebih sedikit, Indonesia justru memanen lebih banyak.” Kinerja ini terlihat dari angka produksi beras pemerintah yang mencapai 38,6 juta ton setara beras giling pada 2026/2027. Angka ini naik secara signifikan dari 34,0 juta ton pada 2024/25, menjadikan Indonesia sebagai produsen terbesar keempat di dunia.

Dalam laporan FAO yang diterbitkan hingga 13 Mei 2026, produksi beras Indonesia diproyeksikan meningkat dari 34,0 juta ton menjadi 38,6 juta ton. Fenomena ini terjadi meski dunia mengalami kontraksi global, dengan beberapa negara seperti Thailand (turun 6,1 persen), Amerika Serikat (turun 15,2 persen), dan Brasil (turun 12,9 persen) mencatat penurunan produksi.

Faktor utama yang memengaruhi perubahan ini melibatkan dua tekanan utama: ketidakpastian iklim akibat prediksi badai kering El NiƱo dan penurunan margin keuntungan usaha tani karena harga pupuk melemah sementara biaya input meningkat. Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan, sebagian petani di Asia Tenggara terpaksa menunda masa tanam akibat mahalnya energi dan pupuk.

Dengan demikian, stok beras dunia diproyeksikan turun menjadi 213,8 juta ton pada akhir 2026/2027, atau koreksi 2,7 persen dari level sebelumnya. Perdagangan beras global juga mengalami kelemahan, mencapai 59,8 juta ton, terutama karena peningkatan permintaan impor di kawasan Asia Tenggara.

Kementan optimistis fenomena ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar beras internasional. FAO menyebutkan, negara tetangga seperti Filipina dan Malaysia diperkirakan menambah pembelian beras tahun ini. Meski produksi Filipina tertekan, ketersediaan beras di lumbung dunia masih layak dipertimbangkan sebagai sumber penghematan biaya untuk pasar domestik.

Pengalaman Indonesia dalam menghadapi situasi seperti ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tetap bisa terjaga meski dunia mengalami kontraksi. Dengan strategi yang tepat, negara-negara besar dapat memanfaatkan peluang pasar dan keterbatasan cadangan untuk meningkatkan kestabilan ekonomi pertanian.

error: Content is protected !!