BeritaLokal, Jakarta – Harga Telur Mulai Naik Lagi di Pasar seiring dengan pemulihan produksi ayam petelur di negeri ini, melaporkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Senin, 20 Juli 2026. Kerena menaklukkan era penurunan harga yang melanda pasar, pekarangan peternak kini meraih kisaran Rp 21.000‑Rp 22.000 per kilogram (kg), masih di bawah level HAP (Harga Acuan Pembelian) peternak yang diharapkan Rp 24.000‑Rp 25.000 per kg.
Kepala Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menayangkan keterangan di Pasar Tebet Timur. Ia menegaskan bahwa penurunan drastis harga telur-yang pada puncak ketidakpastian pernah mencapai Rp 15.000/ kg di kandang-seperti rubah malam ke siang setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) berulang‑ulang kembali beroperasi. “Harga telur mulai naik alhamdulillah,” ujarnya, menekankan kembalinya modal bagi peternak ayam petelur yang selama ini merasa harga pasar tak lagi sepadan dengan biaya produksi.
Kenaikan Harga Menguatkan Peternak
Astawa menjelaskan bahwa kenaikan tersebut tidak sekadar fluktuasi logam pasar, melainkan sinyal bahwa peternak dapat mengoptimalkan produksi kembali. Ia menengok lebih jauh soal strategi, mengingat pemerintah telah menetapkan tingkat harga acuan peternak sebesar Rp 24.000/kg. “Sekarang sudah mulai berangsur‑angsur ke brankas Rp 21.000‑22.000, masih belum mencapai target, tapi ini memberi momentum untuk bertahap menaikkan harga.” Ia menegaskan bahwa pemerintah sebagai produsen negara harus menjaga agar harga tetap wajar, menghindari “peternak jatuh ke titik nol” yang berujung pada ketergantungan impor.
Kebijakan tak hanya berada di ranah ekonomi; realitas sosial menuntut perhatian. Program MBG, yang setengahnya disalahpahami sebagai stimulus berlebihan, pada saat itu meredupkan permintaan. Namun, seiring bulan suro berlalu dan sekolah menyempurnakan jadwal makan, permintaan kembali menaik. Kenaikan harga membantu menyeimbangkan kebutuhan konsumen dengan produksi, sementara pemerintah mengontrol harga di pasar oleh memakai mekanisme HAP yang baru diimplementasikan oleh Kementerian Pertanian (Kementan).
Distribusi Beras Demi Keberlanjutan
Di tengah dinamika harga telur, Bapanas juga menyiapkan tahap kedua distribusi bantuan pangan beras, yang akan meluncur pada Agustus 2026. Menurut Astawa, tahap pertama sudah berhasil mencakup 99,7% penerima, tetapi masih ada beberapa daerah yang belum sepenuhnya terjangkau. Ia menugaskan agar distribusi kedua menyasar 33,24 juta keluarga penerima, menambahkan kapasitas jaringan distribusi yang lebih luas. Namun, artikulasinya jelas menyebutkan temuan tekad: “Kepastian pelaksanaannya masih menunggu anggaran dicairkan oleh Kementerian Keuangan.”
Proses pengajuan anggaran sedang berlangsung, dan Astawa berspekulasi akan segera membuka kesempatan bagi Kepala Bapanas, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, untuk memanfaatkan alokasi tersebut. Pekerjaan rumit ini memerlukan koordinasi antara lembaga keuangan dan Bapanas, memastikan aliran dana tepat guna. Ia menara bahwa harus diselesaikan within bulan Agustus, namun ada anggapan realistis bahwa prosesnya bisa menyelip hingga September akibat kondisi geografis.
Bulog Siap Distribusi Beras
Perum Bulog, rintisan tangan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan, telah menyiapkan stok beras sebesar 5,4 juta ton. Perdana Prodi Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan kesiapan Bulog menyalurkan bantuan pangan beras untuk periode Juli‑September 2026, sementara menunggu penugasan resmi dari Bapanas. Ia menegaskan bahwa distribusi beras menjadi upaya strategis selain menjaga kebutuhan dasar masyarakat berpenghasilan rendah.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta menjadi pangkalan koordinasi bagi Bulog. Diskusi yang diadakan pada 14 Juli 2026 menegaskan bahwa Bulog menunggu penugasan DIPA (Dana Penerimaan Anggaran) dari Bapanas. Seperti yang disebutkan oleh Ramdhani, “Kami sudah menyiapkan jaringan distribusi sehingga penyaluran dapat segera dilakukan setelah penugasan diterbitkan.” Untuk bakal mendapat kepastian ini, Bulog menegaskan kesiapan sumber daya manusia serta logistik, praignific secara logistik.
Di antara kelanjutan langkah kebijakan, pria di Bapanas menilai bahwa penguatan harga telur menjadi kunci bagi industri peternak domestik tetap sejalan dengan dinamika pasar. Sementara distribusi beras di masa mendatang menawarkan janji ketahanan pangan meski regulasi fiskal memerlukan kolaborasi lintas lembaga. Kedua program-peningkatan harga telur dan pemberian beras-menjadi sarana strategis pemerintah untuk mengamankan rantai pasok sekaligus menjaga kestabilan ekonomi rumah tangga di skala nasional.
Artikel Terkait
Harga Telur Stabil Setelah Kebijakan Baru, Peternak Senang
27 Juli 2026
Harga Perak Antam Naik Rp 850, Menguat di Pasar Indonesia
27 Juli 2026
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Rp63k & Telur Rp32k per Kg
27 Juli 2026
Harga Emas Antam Melambung Rp 10.000 pada 27 Juli 2026
27 Juli 2026
Impor Emas China Naik Rekor pada Juni 2026
26 Juli 2026
Pasokan Beras Premium Tetap Stabil: Bapanas Tidak Langka
25 Juli 2026Harga & Spesifikasi Samsung Galaxy Watch Ultra 2
24 Juli 2026
Steam Deck Terus Tebal Harga, Penjualan Terbantut
23 Juli 2026
Memuat komentar...