BeritaLokal, Jakarta – Bapanas Tegaskan Beras Premium Tidak Langka, menegaskan bahwa ketersediaan beras premium di pasar tetap terjaga meski beberapa ritel modern melaporkan kekosongan sementara, dan bahwa beras produksi BUMN terus disalurkan dengan harga yang relatif stabil.
Pada pertemuan di Gedung Bapanas, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa penyesuaian harga di tingkat hilir dianggap wajar dan masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), memberikan ruang keuntungan bagi petani hulu. Ia menegaskan bahwa pasokan beras premium, termasuk produk dari ID Food seperti Rania, masih tersedia secara luas untuk konsumen menengah ke atas maupun bawah.
Menurut catatan Bapanas per 24 Juli 2026, rata‑rata harga beras premium secara nasional berada di angka Rp 15.966 per kilogram, angka yang merupakan rata‑rata dari ketiga zonasi HET beras premium di Indonesia. Kendati demikian, data menunjukkan bahwa harga di Zona I, meliputi Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi, hanya sedikit di atas HET, yakni Rp 15.224 per kg atau selisih 2,17 % dari HET sebesar Rp 14.900 per kg.
Pasokan Ritel Tetap Ada Meski Kekosongan
Ketut menekankan bahwa meski ada beberapa ritel yang melapor kekosongan stok, sebagian besar masih tersebar dan beras bulog tetap tersedia. Ia menyoroti bahwa kebijakan intervensi pemerintah berhasil menstabilkan pasokan sekaligus menjaga kesejahteraan petani di hulu dengan memberikan margin keuntungan yang tak berlebihan. Rupanya, penawaran beras premium tersebut tidak menimbulkan lonjakan harga yang signifikan, sehingga konsumen menengah ke atas tetap dapat mengaksesnya tanpa harus menanggung beban ekstra.
Petani Hulu Dijamin Keuntungan Adil
Dalam konteks ini, Ketut menegaskan bahwa kenaikan harga di hilir sebenarnya menjadi indikator yang tepat bagi petani hulu mendapatkan keuntungan yang adil. Ia mengingatkan bahwa arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yakni swasembada harus didukung oleh kondisi di hulu yang kondusif. Maka, penawaran beras premium yang stabil dapat mendorong produksi berkelanjutan, sementara intervensi pemerintah bertindak sebagai subsidi silang bagi masyarakat menengah ke bawah.
Selama analis data Bapanas menunjukkan bahwa harga beras premium bertambah sedikit di hilir, ia menayangkan perbandingan historis, mengingat kejadian di sektor peternakan ayam petelur di mana harga berkurang drastis dari Rp 24.000 menjadi Rp 16.000. Dengan begitu, petani beras diharapkan tidak mengalami fluktuasi serupa, menjaga stabilitas harga pascakuasa serta keamanan pangan nasional.
Analisis singkat menunjukkan bahwa strategi Bapanas dalam menegaskan ketersediaan beras premium tengah memadukan antara mekanisme pasar yang realistis dan intervensi pemerintah yang mendukung kesejahteraan petani, sekaligus menjaga agar harga beras tetap terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
Artikel Terkait
Bulog Serap 3,5 Juta Ton Beras Petani
26 Juli 2026
Harga Minyak Turun Meski Ketegangan Timur Tengah Meningkat
25 Juli 2026
Cadangan Pangan Indonesia Lebih Layak di Tengah El Nino
21 Juli 2026
Cara Daftar Mitra Warung Pangan Langkah Mudah dan Cepat
20 Juli 2026
Koperasi Merah Putih Jadi Jantung Distribusi Pangan
20 Juli 2026
Harga Telur Naik, MBG Dorong Lonjakan Pasokan
20 Juli 2026
Harga Telur Naik Lagi, Pasar Jakarta Nyatakan Stabil
20 Juli 2026
Platinum Jadi Logam Strategis China, Harga Diprediksi Naik
19 Juli 2026
Memuat komentar...