BeritaLokal, Basra – Harga minyak dunia terus mengalami kenaikan tekanan seiring investor memantau lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Pada 28 Maret 2026, perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran mengganggu operasi pelayaran, menyebabkan kenaikan harga minyak Brent dan WTI.
Pasar memantau data dari Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi rute utama pengiriman minyak dunia. Pemerintah Irak mencatat bahwa lalu lintas kapal tanker mengalami penurunan sejak perang terjadi, dengan 19 juta barel minyak mengalir melalui jalur ini pada Senin, 22 Juni 2026. Angka tersebut diumumkan oleh Komando Pusat AS sebagai rekor, meskipun belum diverifikasi secara langsung oleh CNBC.
Pada 23 Juni 2026, harga minyak Brent turun 82 sen menjadi US$ 77,08 per barel, sementara WTI melemah 65 sen ke US$ 73,21. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa 19 juta barel minyak mengalir melalui Selat Hormuz pada Senin, dengan estimasi 20 juta barel mentah dan produk olahan diekspor sebelum perang Iran. Namun, kekhawatiran terkait ketersediaan pasokan minyak global terus berdampak pada harga.
Pemerintah AS mengeluarkan lisensi 60 hari untuk produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran, dengan pembayaran dalam dolar. Lisensi ini memungkinkan impor minyak mentah dari Irak ke AS, meski terdapat ketegangan antara Iran dan Komando Pusat AS yang menekankan hak kedaulatan di Selat Hormuz. Perundingan antara AS dan Iran di Swiss pada akhir pekan lalu mencatat kemajuan besar, tetapi Teheran kembali menutup Selat Hormuz, mengganggu negosiasi.
Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa perundingan damai berjalan dengan baik, dan komite tingkat tinggi akan dibentuk untuk memantau proses mediasi. Trump, yang sebelumnya menegaskan aksi militer terhadap Iran, mengkritik kekhawatiran pasar atas keberlangsungan kesepakatan sementara. “Mereka seharusnya menggunakan uang itu untuk makanan rakyat mereka,” kata Trump, menekankan bahwa ketersediaan minyak dari Irak bisa mempercepat pembangunan militer Iran.
Pasar optimistis terhadap kemungkinan resolusi konflik, dengan Direktur Pelaksana Strategi Ekuitas Citi Research, Scott Chronert, menyebutkan bahwa harga energi akan berkurang dalam beberapa minggu mendatang karena peningkatan pasokan minyak global. Namun, kebijakan Iran terus memperkuat ketegangan, menggambarkan situasi yang kompleks dan dinamis.
Pada 24 Juni 2026, harga bensin di Los Angeles mencapai level melebihi US$ 8,80 per galon, menunjukkan tekanan inflasional yang terus berdampak pada pasar minyak. Kedua pihak AS dan Iran masih dalam proses negosiasi untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, meski terdapat kekhawatiran akan perubahan status Selat Hormuz.
BeritaLokal, Basra, Harga minyak dunia terus mengalami kenaikan tekanan seiring investor memantau lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Pada 28 Maret 2026, perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran mengganggu operasi pelayaran, menyebabkan kenaikan harga minyak Brent dan WTI.