Gas Bumi Jadi Penentu Keberlangsungan Industri Keramik

Gas bumi menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberlangsungan industri keramik.

PerbesarIlustrasi industri keramik. Gas bumi menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberlangsungan industri keramik. (AP Photo/Ajit Solanki)

, Jakarta – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mendorong adanya pembahasan bersama antara pemerintah, pemasok gas dan pelaku usahapasokan serta harga gas bumi guna mendukung peningkatan utilisasi dan daya saing industri keramik nasional.

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengatakan gas bumi merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberlangsungan dan daya saing industri keramik. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat hadir untuk mencarikan solusi atas persoalan harga dan pasokan gas yang masih menjadi tantangan bagi industri.

Menurut Edy, kenaikan harga gas tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami sejumlah negara pesaing. Thailand, misalnya, yang sebelumnya menikmati harga gas sekitar USD 9 per MMBTU, kini mengalami kenaikan hingga sekitar USD 12 per MMBTU.

Sementara di Malaysia, harga gas yang sebelumnya berada di kisaran USD 9,4 per MMBTU kini diperkirakan telah meningkat menjadi sekitar USD 10-11 per MMBTU.

Meski demikian, kondisi di Indonesia dinilai memiliki tantangan tersendiri. Industri keramik saat ini hanya memperoleh sekitar 40 persen pasokan gas dengan harga khusus USD 7 per MMBTU.

Sementara sisa kebutuhan harus dipenuhi dengan harga yang jauh lebih tinggi, sehingga rata-rata harga gas yang dibayar industri mencapai sekitar USD 15 per MMBTU.

“Kondisi ini yang kami khawatirkan karena dapat mengganggu target peningkatan utilisasi industri,” ujar Edy dikutip dari Antara, Jumat (5/6/2026).

Ia menjelaskan semakin tinggi tingkat produksi dan utilisasi pabrik maka kebutuhan serta biaya energi juga akan meningkat. Oleh karena itu, industri membutuhkan dukungan agar tetap mampu bersaing dengan produk impor maupun produsen dari negara lain.

Pengalihan Ekspor

PerbesarDiperkirakan Industri keramik nasional mulai bangkit tahun depan, Jakarta, Selasa (29/11). Kebangkitan industri keramik ditandai penurunan harga gas industri dan stabilnya pertumbuhan ekonomi. (/Angga Yuniar)

Selain itu, pelaku usaha mengingatkan adanya potensi tekanan dari kelebihan kapasitas produksi di berbagai negara yang dapat mendorong pengalihan ekspor ke pasar Indonesia.

Dalam kondisi tersebut, faktor harga dan ketersediaan gas menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan untuk menjaga daya saing industri nasional.

Asaki juga berharap adanya transparansi dari pemasok gasstruktur harga yang diterapkan kepada konsumen industri.

Menurut Edy, apabila harga gas ekspor Indonesia berada di kisaran USD 8 per MMBTU, sementara industri domestik harus membeli dengan harga yang sama atau bahkan lebih tinggi, maka kondisi tersebut perlu dikaji bersama.

Ia menegaskan bahwa industri keramik tidak meminta subsidi dari pemerintah. Namun, Asaki berharap tersedia ruang diskusi yang konstruktif antara pemerintah, pemasok gas, dan pelaku usaha untuk mencari formulasi kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan industri.

“Jika harga gas bisa berada di kisaran USD 7 hingga USD 9 per MMBTU, industri Indonesia masih dapat bersaing dengan negara-negara seperti Malaysia dan Thailand,” ujarnya.

 

Kapasitas Produksi

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat saat ini kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional mencapai sekitar 650 juta meter persegi per tahun dengan tingkat utilisasi produksi sebesar 73 persen, serta menyerap lebih dari 150 ribu tenaga kerja.

Adapun untuk menjaga daya saing industri keramik, pemerintah terus menjalankan berbagai kebijakan strategis, antara lain pemberian fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, pengamanan perdagangan melalui instrumen safeguard dan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD).



error: Content is protected !!