BI Prediksi The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga Lagi

BeritaLokal, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan kekhawatiran terkait kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed (Fed Funds Rate) di Amerika Serikat (AS). Hal ini dipicu oleh tingginya inflasi AS dan ketidakpastian global yang masih berdampak pada ekonomi dunia.

Selain itu, kondisi kebijakan moneter AS terus memperkuat tekanan untuk menaikkan suku bunga. Perry menyebutkan bahwa indeks dolar AS terhadap mata uang internasional tetap kuat, sehingga minat investor global terhadap pasar negara berkembang masih terbatas. “Ke depan, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait konflik di Timur Tengah diperkirakan dinamis,” kata Perry. Hal ini membutuhkan kewaspadaan dan penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas eksternal dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, imbang dengan inflasi yang diharapkan tetap terkendali.

Perry menegaskan bahwa BI memutuskan meningkatkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) dari 5% menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 17-18 Juni 2026. Selain itu, suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga ditetapkan naik sebesar 25 bps menjadi 4,75% dan 6,50%, masing-masing. Langkah ini dianggap sebagai langkah pre-emptive untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi pada kisaran 2,5% plus-minus 1% hingga 2027.

Pada 17 Juni 2026, yield US Treasury tenor 10 tahun mencapai 4,49%, sementara tenor 2 tahun berada di level 4,18%. Perry menjelaskan bahwa tingginya yield ini tidak hanya dipengaruhi kebijakan moneter The Fed, tetapi juga oleh defisit fiskal AS. “Tingginya imbal hasil surat utang memperkuat dugaan kenaikan suku bunga karena tekanan inflasi yang masih tinggi di AS,” katanya.

Kondisi global terus mengalami perubahan, dengan ketidakpastian di Timur Tengah masih berdampak pada ekonomi dunia. Perry menekankan bahwa kebijakan moneter BI harus tetap strategis untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas finansial dan pertumbuhan ekonomi. “Kita perlu mempertahankan ketahanan eksternal, menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, serta mendorong pertumbuhan domestik dalam skala yang sehat,” tambahnya.

Dengan langkah ini, BI berharap dapat mengurangi tekanan inflasi dan memastikan stabilitas ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang masih berat.

error: Content is protected !!