IBM bersiap menggelontorkan dana fantastis lebih dari Rp 180 triliun demi mengomersialkan komputasi kuantum.
PerbesarIlustrasi komputasi kuantum. Credit: Unsplash/A Chosen Soul
, Jakarta – Quantum computing (komputasi kuantum) merupakan bidang ilmu dan teknik komputer yang memanfaatkan prinsip-prinsip unik mekanika kuantum untuk menyelesaikan berbagai masalah rumit.
Teknologi ini mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari pengembangan perangkat keras hingga algoritma kuantum khusus. Dengan memanfaatkan fenomena fisika pada skala atom, komputer kuantum mampu mengakses metode matematika baru yang tidak dapat dilakukan oleh sistem komputasi klasik.
Meskipun saat ini masih dalam tahap pengembangan, teknologi kuantum diproyeksikan segera mampu melampaui kemampuan superkomputer tercanggih sekalipun.
Komputer kuantum skala besar memiliki potensi luar biasa untuk menyelesaikan kalkulasi kompleks dalam hitungan menit atau jam, yang jika dikerjakan oleh mesin konvensional biasa akan membutuhkan waktu hingga ribuan tahun.
Itulah gambaran sekilas tentang komputasi kuantum, lompatan inovasi besar yang tengah diperjuangkan oleh raksasa teknologi IBM.
Berbeda dengan komputer klasik yang menggunakan bits (0 atau 1) untuk memproses data, komputer kuantum menggunakan qubits. Demikian sebagaimana dikutip dari laman BGR, Minggu (7/5/2026).
Kemampuan qubits untuk berada di dua status sekaligus (superposisi) memungkinkan mesin ini menyelesaikan komputasi rumit miliaran kali lebih cepat daripada superkomputer tercanggih saat ini.
Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana merakit perangkat komersial yang stabil. Guna menjawab tantangan tersebut, IBM baru saja mengajukan dokumen resmi kepada Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat.
IBM bersiap menggelontorkan dana fantastis lebih dari USD 10 miliar (sekitar Rp 180 triliun) demi mengomersialkan komputasi kuantum.
Target Ambisius 2029
Investasi masif ini akan dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan (R&D), belanja modal, kemitraan ekosistem, manufaktur skala besar, hingga potensi merger dan akuisisi.
IBM menargetkan proyek ini memakan waktu lima tahun dan optimistis mampu menciptakan komputer kuantum skala besar yang toleran terhadap kesalahan (large-scale fault-tolerant) pertama di dunia pada tahun 2029.
Ini bukan langkah awal bagi IBM. Perusahaan mengklaim telah menerapkan lebih dari 90 sistem kuantum hingga saat ini dan merangkul lebih dari 300 mitra, mulai dari korporasi, universitas, hingga lembaga pemerintah.
Pertanyaan besarnya, siapa yang akan menjadi pihak pertama yang menjajal komputer kuantum komersial ini saat siap diuji coba?
Suntikan Dana Pemerintah
Rencana IBM mencuri perhatian bukan hanya karena nilainya yang fantastis, melainkan juga momentumnya yang krusial. Pada Mei 2026, Institut Standar dan Teknologi Nasional (NIST) AS menganugerahkan insentif CHIPS sebesar USD 1 miliar kepada IBM untuk membangun pabrik pengecoran (foundry) chip kuantum di tanah Amerika.
Fasilitas ini akan beroperasi di bawah anak perusahaan baru IBM bernama Anderon, di mana IBM juga menyuntikkan dana internal tambahan sebesar USD 1 miliar.
Meski Anderon dan proyek riset kuantum utama berjalan dengan anggaran terpisah, keduanya saling terikat erat. IBM menegaskan kolaborasi ini adalah kunci untuk menyediakan kemampuan manufaktur kuantum AS yang aman, sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan memperkuat keamanan nasional.
Jika strategi ini berhasil, dampaknya akan terasa langsung oleh konsumen. Terobosan ini diharapkan dapat menekan harga perangkat keras, sebuah angin segar di tengah lonjakan harga gadget akibat maraknya pusat data AI.
IBM memproyeksikan ekosistem riset dan pabrik chip kuantum ini akan mencatatkan nilai bersih mencapai USD 850 miliar pada 2040 mendatang.
