Pengusaha Rusia Mengeluh Soal Suku Bunga Masih Tinggi

BeritaLokal, Jakarta – Selain itu, ekonomi Rusia terus menghadapi tekanan dari kebijakan moneter ketat yang diambil oleh bank sentral, menurut pernyataan para pengusaha yang menyebabkan permintaan domestik turun dan kritik terhadap strategi pemerintah. Meski suku bunga acuan Rusia sekarang hanya 14,5%, angka ini masih dianggap tinggi bagi bisnis yang berada dalam perjalanan ekonomi yang menantang.

Pengusaha seperti Roman Trotsenko, miliarder di bidang transportasi dan real estat, mengatakan bahwa kebijakan suku bunga yang terus meningkat “sama seperti eksperimen besar sebelumnya” ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga pada 1979-1982. Dalam sebuah panel ekonomi di St. Petersburg, Trotsenko menyebut kebijakan ini sebagai “jebakan Zabotkin,” merujuk pada Wakil Ketua Bank Sentral Rusia Alexei Zabotkin, yang sebelumnya menegaskan bahwa kebijakan moneter berada dalam konsensus pemerintah.

“Inflasi telah melambat menjadi 5,6% dari sekitar 10%, tapi ini masih terlalu tinggi untuk bisnis,” kata Trotsenko, sambil menyebutkan bahwa pengusaha menilai suku bunga yang tinggi membuat ekonomi “jebakan” yang mengancam. Dalam sesi pidato, Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui kesedihan dan kekhawatiran para pengusaha terhadap biaya pinjaman, tetapi menyatakan bahwa fondasi ekonomi Rusia masih kokoh.

Pertumbuhan ekonomi di Rusia diproyeksikan melambat menjadi 0,4% pada 2026 dari 4,9% pada 2024, menurut pemerintah yang menggarani dampak suku bunga tinggi dan rubel yang “overvalued”. Namun, langkah-langkah pemerintah dianggap tidak akan memberikan dorongan signifikan bagi pertumbuhan ekonomi.

Permintaan domestik terus menurun, terutama untuk produk seperti baja, yang mengakibatkan perusahaan seperti Severstal memangkas 24% portofolio investasinya sementara arus kas menjadi negatif. Alexei Mordashov, pemilik perusahaan baja, menyebut kritik terhadap kebijakan pemerintah sebagai “keadaan yang sangat sulit”.

Selain itu, para pengusaha Rusia sering menahan diri untuk tidak berkomentar secara terbuka tentang perang di Ukraina. Mereka lebih memilih mengajukan permohonan pencabutan sanksi Barat atau berjuang di pengadilan. CEO Sberbank German Gref menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi yang rendah saat ini “sudah merupakan keajaiban” dalam kondisi ketidakstabilan global.

Sementara itu, Zabotkin, mantan arsitek kebijakan bank sentral, mengakui keterbatasan pemerintah dalam menangani tantangan eksternal, seperti sanksi Barat dan ancaman terhadap akses pasar. “Apa dampak tantangan eksternal? Selain fakta bahwa mereka ingin memberikan kekalahan strategis, mereka hanya ingin memperlambat kita,” kata Mazepin, pemilik Uralchem, yang mengatakan tindakan pemerintah terhadap perekonomian “sama seperti upaya menekan ekonomi”.

Dalam kesimpulan, tantangan ekonomi Rusia semakin kompleks dengan perang di Ukraina memperparah tekanan pada bisnis dan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.

Artikel Terkait

0