BeritaLokal, Jakarta – Meski kondisi pasar saham Indonesia masih mengalami koreksi tajam, minat perusahaan untuk menghimpun dana melalui pasar modal tetap terjaga. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada 75 rencana penawaran umum (IPO) yang berada dalam pipeline dengan nilai indikatif sebesar Rp64,26 triliun. Angka ini menunjukkan pasar modal Indonesia tetap menjadi sumber pendanaan yang menarik bagi dunia usaha, meski IHSG mengalami koreksi signifikan sepanjang tahun 2026.
“Selama Mei 2026, nilai fundraising korporasi di pasar modal mencapai Rp68,18 triliun, dengan 75 rencana IPO dalam pipeline yang memiliki nilai total sebesar Rp64,26 triliun,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam konferensi pers RDKB Mei 2026. Ia menekankan bahwa tingginya aktivitas penggalangan dana menunjukkan fungsi intermediasi pasar modal tetap berjalan dengan baik, meski IHSG mengalami penurunan signifikan.
Kondisi pasar saham yang terus berfluktuasi belum menghambat minat perusahaan untuk mencari pendanaan melalui pasar modal. Pada akhir Mei 2026, IHSG ditutup di level 6.127,38, terkoreksi sebesar 11,92 persen secara bulanan dan 29,14 persen sejak awal tahun. Namun, Fawzi mengatakan bahwa kondisi tersebut tidak mengurangi minat perusahaan untuk memanfaatkan opsi pendanaan melalui pasar modal.
Selain IPO, keberadaan securities crowdfunding (SCF) menjadi alternatif pembiayaan yang semakin populer. Hingga Mei 2026, total dana yang dihimpun melalui platform SCF mencapai Rp1,94 triliun, menunjukkan semakin luasnya pilihan pendanaan bagi pelaku usaha, khususnya usaha kecil dan menengah. “Volume transaksi secara akumulatif pada pasar derivatif keuangan mencapai 185.423 lot,” katanya.
Fawzi menjelaskan bahwa meski IHSG mengalami penurunan, pasar modal tetap berperan sebagai mesin pendanaan jangka panjang bagi dunia usaha dan pemerintah. Kondisi ini menjadi sinyal positif di tengah tekanan ekonomi yang masih terus memengaruhi pasar. “Tingginya jumlah perusahaan yang bersiap masuk pasar modal menunjukkan tren kebutuhan pendanaan yang tetap tinggi,” tambahnya.
Dalam konferensi pers, Fawzi juga menyebut bahwa penekanan pada securities crowdfunding dan pengembangan alternatif pembiayaan berbasis pasar modal menjadi bagian dari upaya OJK untuk memastikan keberlanjutan sistem keuangan. Meski IHSG terus mengalami koreksi, perusahaan tetap melanjutkan aktivitas pendanaan melalui pasar modal sebagai strategi penting dalam mengejar pertumbuhan bisnis.
Artikel Terkait
IPO RANS: Bukti Industri Kreatif Indonesia
15 Juli 2026
Hynix Raih Rp478 Triliun dari IPO AS
15 Juli 2026
RANS Kembangkan Cipungland, Raih IP Andalan
15 Juli 2026
RANS Entertainment Jadi Emiten, Raih Rp429 Miliar
15 Juli 2026
IPO di BEI Berlanjut, Investor Kepercayaan Tinggi
8 Juli 2026
Ikuti Jejak Anthropic, OpenAI Ajukan IPO
9 Juni 2026
Antrean IPO Menyusut jadi 12 Perusahaan, Ini Alasannya
8 Juni 2026
Investor China dan Hong Kong Tak Bisa Ikut IPO SpaceX?
6 Juni 2026
Memuat komentar...