BeritaLokal, Jakarta – Dolar Singapura terus menguat sepanjang 2026, menjadi salah satu mata uang yang paling stabil di pasar valuta asing Asia. Peningkatan nilai dolar Singapura terhadap dolar AS dan rupiah menciptakan tren yang menarik perhatian para pengamat ekonomi dan investor global. Meski mengalami penurunan seputaran 0,12% pada Jumat, 29 Mei 2026, dolar Singapura kembali naik sebesar 1,44% dalam enam bulan terakhir dan 0,73% dalam satu tahun terakhir.
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa kebijakan moneter Bank Sentral Singapura yang menetapkan nilai tukar terarah menjadi faktor kunci. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi inflasi impor dan menjaga stabilitas ekonomi, meski perubahan geopolitik di Timur Tengah seperti penutupan Selat Hormuz berpotensi menimbulkan ketidakstabilan. “Bank Sentral Singapura telah memastikan bahwa kebijakan nilai tukar mereka fokus pada stabilitas ekonomi,” kata Assuaibi.
Selain itu, dolar Singapura juga menguat karena peran Singapura sebagai pusat keuangan Asia dan negara transit utama untuk ekspor dan impor. Kinerja ekonomi Singapura yang positif, termasuk tingkat pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan investor asing, menjadi daya tarik tambahan. Dolar Singapura juga diakui sebagai “safe haven kedua” setelah dolar AS, dengan penguatan nilai tukar terutama dalam skenario krisis moneter atau perubahan politik global.
Data dari google finance menunjukkan bahwa pada Kamis (28 Mei 2026), dolar Singapura menyentuh level 13.946 terhadap rupiah, naik sebesar 10,49% tahunan. Selama enam bulan terakhir, dolar Singapura menguat 8,78%, sementara di kuartal pertama 2026, nilai tukar dolar Singapura terhadap rupiah mencapai 13.961. Kenaikan ini dipengaruhi aliran modal asing yang masif ke Singapura setelah pandemi, termasuk investasi perusahaan teknologi dan realokasi dana dari China.
Ekonom BCA David Sumual mengatakan bahwa penguatan dolar Singapura terhadap rupiah disebabkan oleh aliran modal asing yang berfluktuatif. “Banyak perusahaan teknologi memilih investasi di Singapura dan Malaysia, sementara Indonesia kalah bersaing dengan negara lain,” kata Sumual. Dolar Singapura juga menguat terhadap dolar AS karena kebijakan moneter yang menetapkan nilai tukar yang stabil.
Sementara itu, dolar AS dianggap berpotensi melemah dalam jangka panjang karena tingginya utang federal AS dan risiko krisis moneter global. Patrick Thomson dari JPMorgan Asset Management mengkritik kebijakan fiskal AS yang mungkin tidak cukup untuk menahan inflasi, meski hegemoni keuangan Amerika Serikat tetap kuat. “Keseimbangan fiskal dan perdagangan menjadi kunci untuk memastikan utang AS tidak terus-menerus meningkat,” kata Thomson.
Dolar Singapura terus menjadi pilihan investasi yang menarik karena statusnya sebagai safe haven, meski perubahan politik global dan fluktuasi ekonomi bisa mengubah tren. Peningkatan nilai dolar Singapura kini menciptakan dinamika pasar valuta asing Asia, dengan potensi pergerakan lebih kompleks dalam 2026.
Artikel Terkait
Perry Warjiyo Mundur, BI Siap Seimbangkan Kebijakan Moneter
28 Juli 2026
OJK Tanggapi Peringatan MSCI di Frontier Market
30 Juni 2026
Bank Indonesia Naikkan BI Rate Kembali Jadi 5,5%
9 Juni 2026
JPMorgan Sebut Strategy Perlu Membangun Cadangan Dolar
8 Juni 2026
Masyarakat Mulai Tambah Simpanan Valas, OJK Sebut Masih Batas Wajar
31 Mei 2026
Produksi Beras Indonesia Mendorong Rekor Puncak di Asia Tenggara Hari Ini
20 Juni 2026
BI Rate Meningkat Kembali, Masyarakat Mulai Ragu Pinjam ke Bank
20 Juni 2026
Pilih Rumah Baru! Jangan Lewatkan Langkah Penting Ini
20 Juni 2026
Memuat komentar...