BeritaLokal, Jakarta – Kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri perang mendorong pembukaan Selat Hormuz yang telah terblokade selama empat bulan. Namun, meski kembali terbuka, antrean kapal strategis masih memakan waktu berminggu-minggu untuk kembali stabil.
Selain itu, pelaku industri dan pelayaran mengingatkan bahwa proses normalisasi lalu lintas laut akan berlangsung secara bertahap, bukan seketika. “Asumsi yang terbesar adalah peningkatan lalu lintas secara bertahap, bukan langsung kembali ke 100 pelayaran per hari,” kata Wakil Presiden Editorial Lloyd’s List Intelligence, Adam Sharpe. Dalam skenario ini, kapal akan dimudahkan akses dengan mekanisme pengaturan lalu lintas yang melibatkan Iran dan Oman.
Pada masa perang, jumlah kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz mencapai 650 hingga 770 kapal per minggu, atau sekitar 90-110 pelayaran per hari untuk kedua arah. Namun, data dari QuantCube Technology menunjukkan peningkatan ekspor minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Irak belum terlihat. Di wilayah Dammam, kapal-kapal yang telah dimuat dan dikirim ke lepas pantai masih menunggu situasi lebih jelas.
Kondisi logistik masih kompleks karena beberapa pertanyaan besar belum terselesaikan, seperti izin untuk kapal, biaya layanan, pengawalan angkatan laut asing, serta risiko keamanan. “Ranjau atau risiko keamanan mungkin memerlukan proses pembersihan terlebih dahulu,” kata Sharpe.
Pembukaan Selat Hormuz juga menghadapi tantangan teknis dan geopolitik. Harga minyak sempat turun di bawah US$ 80 per barel setelah kabar tentang kesepakatan, tetapi stabilitas harga masih bergantung pada peningkatan pasokan yang cukup. Operator kapal, pelabuhan, dan perusahaan energi harus memantau dinamika terus-menerus untuk menghindari keterpurukan ekonomi.
Sementara itu, para investor pasar berharap pasokan minyak, LNG, dan komoditas lain segera kembali mengalir ke pasar setelah empat bulan konflik. Namun, perlu waktu untuk memastikan bahwa sistem logistik tetap mampu menangani kapal yang terperangkap.
Dalam skenario tertentu, pembukaan Selat Hormuz bisa dilakukan secara bertahap, dengan langkah-langkah pengaturan lalu lintas yang lebih rapi. Tantangan utama masih ada di dalamnya, dan keberhasilan akan bergantung pada kemampuan pemerintahan serta koordinasi antara negara-negara terkait.