Pelni Rombak Jajaran Direksi, Budi Setyawan Wijaya Jadi Direktur Utama

BeritaLokal, Jakarta – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni mengumumkan perubahan susunan dewan komisaris dan direksi setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berlangsung di Jakarta, 18 Juni 2026. Keputusan ini ditandai dengan penunjukannya Budi Setyawan Wijaya sebagai Direktur Utama, sementara penggantiannya terhadap Tri Andayani dan Anik Hidayati juga dilakukan.

Pernyataan resmi dari Sekretaris Perusahaan Pelni, Ditto Pappilanda, menyebutkan bahwa para pemegang saham menghargai kontribusi ketiganya dalam transformasi Perusahaan sejak 2022-2026. RUPS juga menyetujui laporan keuangan tahun buku 2025 dan kinerja Perusahaan untuk periode yang sama.

Dewan Direksi Baru Pelni terdiri dari Budi Setyawan Wijaya sebagai Direktur Utama, Triswahyu Herlina di posisi Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Kokok Susanto menjabat Direktur Armada dan Teknik, serta Heri Purnomo sebagai Direktur SDM dan Umum. Sementara itu, Nuraini Dessy W menggantikan Direktur Usaha Angkutan Penumpang, dan Hana Suhardi di posisi Direktur Usaha Angkutan Barang dan Tol Laut.

Dewan Komisaris terdiri dari Soenarko Gatie Atmodjo sebagai Komisaris Utama, Faturohman, Budi Mantoro, Moekhlas Sidik, serta Sosialisman Hidayat Hasibuan yang merupakan komisaris independen.

Selain itu, Pelni mendapatkan suntikan modal sebesar Rp 1,5 triliun melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) dari APBN Tahun Anggaran 2025. Kebijakan ini ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53 Tahun 2025, yang diberikan Presiden Prabowo Subianto pada 30 Desember 2025. Dana tersebut akan disetorkan ke Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebelum dipasang sebagai penambahan modal saham di Pelni.

Dony Oskaria, COO Danantara, menekankan bahwa PT PAL Indonesia menjadi “anchor” industri perkapalan nasional. Perusahaan-perusahaan BUMN seperti Pertamina International Shipping (PIS), Pelni, dan ASDP akan wajib membeli kapal dari PT PAL untuk meningkatkan kemampuan manufaktur kapal di dalam negeri. Langkah ini diperkirakan bertujuan untuk mengurangi impor, meningkatkan ekonomi, serta mendorong keterlibatan industri sektor pertanian dan perkapalan.

Dengan suntikan modal Rp 1,5 triliun, Pelni diharapkan dapat memperkuat armada kapalnya dan menjaga stabilitas logistik, terutama dalam wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kebijakan ini juga menunjukkan kebijaksanaan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor industri.

Dengan perubahan dewan dan suntikan modal, Pelni berharap dapat menjadi pilar transportasi laut yang lebih kompetitif di tengah tantangan globalisasi.

error: Content is protected !!