BeritaLokal, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah sedang menyiapkan stimulus sosial usai penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Bantuan ini dirancang untuk kelompok rentan miskin, dengan target desil 1-4, yaitu kategori masyarakat yang paling miskin. Dalam kesempatan itu, Airlangga membagi tugas stimulus ke dalam dua kategori: kelas menengah kebawah (desil 4 ke bawah) dan kelas menengah (desil 1-4).
Sementara itu, ia mengakui bahwa pemerintah belum menyasar kelompok menengah, melainkan fokus pada desil 1-4. “Bantuan ini tidak berupa BLT tunai, tetapi bentuk lain seperti magang nasional,” terang Airlangga. Ia membandingkan stimulus bagi kelas menengah dengan program magang yang sedang direncanakan di bulan Juni 2026.
Selain itu, ia menyebutkan bantuan langsung tunai (BLT) akan diberikan kepada masyarakat kelas bawah, meski tidak dalam bentuk tunai. “Jika BLT bukan untuk menengah, tapi untuk bawah,” jelasnya.
Pihak berwenang juga memastikan bahwa BBM subsidi tetap dipertahankan, meskipun harga nonsubsidi Pertamax mengalami kenaikan hingga Rp 16.250 per liter. Keputusan ini dianggap sebagai keberpihakan terhadap masyarakat, terutama kelompok yang tidak mendapat subsidi.
Analisis ekonomi dari Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Rizal Taufikurrahman menyoroti tekanan ekonomi pada kelas menengah. Ia menyebutkan, peningkatan harga BBM nonsubsidi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) menjadi beban besar bagi kelompok ini. Misalnya, pekerja komuter yang konsumsi 40-60 liter per bulan menghadapi tambahan pengeluaran sekitar Rp 158 ribu hingga Rp 237 ribu.
Tekanan ganda juga diperkirakan memengaruhi daya beli kelas menengah, karena kenaikan biaya transportasi, pangan, cicilan, dan pendidikan. Sehingga konsumsi mereka akan bergeser ke kebutuhan pokok, mengorbankan ritel dan jasa. Rizal meminta pemerintah memberikan stimulus lebih berpihak melalui kebijakan pengurangan biaya hidup (cost of living support), seperti menaikkan Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP) atau memberikan tax credit untuk pekerja.
Ia juga meminta pemerintah memberikan subsidi transportasi publik dan bunga kredit terbatas untuk KPR rumah pertama dan kredit UMKM produktif. “Kemudian, subsidi bunga secara terbatas untuk KPR rumah pertama dan kredit UMKM produktif,” tambah Rizal.
Dalam kesimpulan, pemerintah menunjukkan upaya meminimalkan dampak ekonomi akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi. Namun, analisis terus mengingatkan bahwa tekanan ekonomi pada kelas menengah masih berpotensi melambatkan pertumbuhan ekonomi jika tidak ada kebijakan yang lebih tepat.