BeritaLokal, Jakarta – Google resmi melayangkan gugatan ke pengadilan federal New York terhadap jaringan kejahatan siber asal China bernama Outsider Enterprise, yang diduga menggunakan AI Gemini untuk membangun situs palsu dan melakukan penipuan finansial. Gugatan ini menyoroti risiko teknologi intelektual berpotensi merusak jika tidak diatur secara ketat.
Dalam gugatan tersebut, Google menyebut Outsider Enterprise telah mengoperasikan jaringan yang mempersembahkan “phishing kit” siap pakai melalui platform Telegram. Kit ini mencakup lebih dari 290 template situs palsu yang disematkan sebagai layanan Google, YouTube, USPS, dan sistem tol E-ZPass. Dalam dua minggu terakhir, jaringan ini telah menghasilkan lebih dari 9.000 situs palsu dan satu juta URL.
Kasus ini berbeda dengan penipuan online yang umum karena anggota jaringan saling mendorong satu sama lain untuk memanfaatkan Gemini AI, sehingga kode situs phishing dapat langsung diimpor ke software Outsider dan disematkan menjadi halaman web menjerat korban. FBI mengestimasi kerugian dari operasi ini mencapai USD 1,9 miliar sejak Juli 2023, dengan lebih dari 3,87 juta nomor kartu kredit yang dicuri dari puluhan negara.
Google meminta pengadilan untuk menonaktifkan aktivitas Outsider Enterprise secara permanen. Selain itu, perusahaan tersebut juga menggandeng FBI dan tiga operator telekomunikasi besar AS seperti AT&T, T-Mobile, serta Verizon untuk memblokir pesan penipuan sebelum mereka terbuka di ponsel korban. Sistem keamanan pesan bawaan Google telah mencegat lebih dari 10 miliar pesan berbahaya setiap bulan, dengan fitur deteksi real-time yang menandai panggilan dan kontak mencurigakan sebelum pengguna terjebak.
Selain itu, Google juga melanjutkan upaya hukum melawan jaringan scam asal China lainnya, seperti Lighthouse, yang menjual kit phishing serupa. Dalam kerja sama dengan SpaceX, Google meminta dana sebesar USD 920 juta atau Rp 16,6 triliun per bulan untuk akses ke superkomputer SpaceX, yang akan digunakan untuk memperkuat infrastruktur AI-nya.
Kerja sama ini dianggap strategis karena Google tengah menghadapi lonjakan permintaan global terhadap produk AI Gemini Enterprise. Sementara itu, SpaceX menunjukkan posisi kuatnya sebagai penyedia komputasi terbesar dunia, dengan kontrak yang mencakup 110.000 unit GPU dan perangkat lainnya.
Dalam kesempatan ini, Google mengklaim langkah ini adalah untuk memastikan kapasitas “bridge capacity” mereka dapat menangani permintaan pelanggan yang tumbuh pesat. Perwakilan Google menyebut bahwa keputusan ini diambil setelah lonjakan permintaan yang tidak terduga terhadap Gemini Enterprise.
Dampak dari aksi penipuan online ini telah merusak kepercayaan masyarakat terhadap teknologi AI, menegaskan pentingnya pengawasan ketat dan regulasi yang berkelanjutan dalam memperkuat perlindungan data digital.