[BeritaLokal], Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren positif pada sesi kedua perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, (10/6/2026), dengan kenaikan 2,15% menjadi 5.870 poin. Peningkatan ini terjadi di tengah kondisi pasar yang stabil, dengan nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar AS yang berada di level 17.918, menunjukkan sentimen pasar yang positif terhadap kebijakan moneter dan ekonomi nasional.
Pergerakan IHSG pada sesi kedua ini didukung oleh 536 saham yang menguat, sementara hanya 167 saham yang melemah dan 111 saham yang berada di zona stagnan. Total frekuensi perdagangan mencapai 2.227.072 kali, dengan volume perdagangan mencapai 34,1 miliar saham dan nilai transaksi harian mencapai Rp 21,7 triliun, menunjukkan aktivitas pasar yang sangat tinggi dan dinamis.
Struktur sektor saham juga memberikan indikasi kuat terhadap kecenderungan optimis. Sektor keuangan tampil paling dominan dengan kenaikan 3,11%, diikuti oleh sektor teknologi yang melonjak 3,91%, serta sektor transportasi yang naik 3,14%. Sementara itu, sektor energi, basic, dan industri masing-masing naik 1,76%, 1,87%, dan 1,88%, menunjukkan kekuatan fundamental industri ritel dan infrastruktur. Sektor consumer siklikal dan nonsiklikal juga menguat sebesar 0,72% dan 0,59% masing-masing, sementara sektor kesehatan dan properti tampil stabil dengan kenaikan 0,53% dan 2,76%.
Pada level perusahaan, beberapa saham mengalami gerakan signifikan. Saham BUMI, misalnya, melonjak 2,05% menjadi Rp 149 per saham, dengan volume perdagangan mencapai 60,68 juta saham dan nilai transaksi Rp 909,3 miliar. Di sisi lain, DSSA mengalami kenaikan 11,85% menjadi Rp 755 per saham, dengan aktivitas perdagangan mencapai 12,5 juta saham dan nilai transaksi Rp 953,9 miliar, menunjukkan perhatian pasar terhadap dinamika perusahaan teknologi dan infrastruktur.
Sementara itu, PGEO menunjukkan kenaikan 1,19% menjadi Rp 850 per saham, dengan volume perdagangan yang lebih rendah namun tetap menunjukkan aktivitas pasar yang tetap stabil. Sebaliknya, AMMN mengalami penurunan 1,76% menjadi Rp 3.350 per saham, menunjukkan adanya tekanan pasar terhadap sektor keuangan dan perbankan.
Pergerakan IHSG ini tidak hanya mencerminkan kepercayaan investor terhadap ekonomi domestik, tetapi juga menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih mempertahankan sentimen positif meski menghadapi tekanan global. Penguatan rupiah, keberlanjutan kebijakan fiskal, serta keberhasilan sektor-sektor strategis seperti teknologi, transportasi, dan keuangan, semuanya menjadi fondasi utama bagi kinerja IHSG yang berlanjut.
Sesi kedua perdagangan saham ini menandai konsistensi tren positif sejak awal sesi, dengan IHSG mencapai level tertinggi 5.939,35 dan terendah 5.677,96, menunjukkan volatilitas yang terkendali dan ketahanan pasar terhadap fluktuasi eksternal. Dengan aktivitas perdagangan yang tinggi dan pergerakan sektor yang beragam, pasar saham Indonesia terus menunjukkan ketahanan dan keberlanjutan dalam menghadapi tantangan global.