Bagaimana aksi protes demokrasi pada 4 Juni 1989 di Beijing ini berubah menjadi salah satu peristiwa paling kontroversial dalam sejarah modern China?
PerbesarSejumlah orang berkumpul memegang lilin sambil berdoa untuk memperingati Insiden Tiananmen di Taman Victoria Hong Kong (4/6). Pada tahun 1989 telah terjadi Insiden 6/4 atau Pembantaian Lapangan Tiananmen. (AP/Vincent Yu)
, Beijing – Tepat pada 4 Juni, dunia mengenang salah satu peristiwa paling kontroversial dalam sejarah modern Tiongkok, ketika militer negara itu melancarkan operasi bersenjata untuk membubarkan demonstrasi pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada 1989.
Peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi atau Pembantaian Tiananmen itu menewaskan ratusan warga sipil, meski jumlah korban pasti hingga kini masih menjadi perdebatan.
Dilansir dari BBC, Kamis (4/6/2026) operasi militer dimulai pada malam 3 Juni 1989 ketika tank dan pasukan bersenjata bergerak menuju Lapangan Tiananmen dari berbagai arah untuk mengakhiri aksi demonstrasi yang telah berlangsung selama sekitar tujuh minggu.
Tentara dilaporkan melepaskan tembakan ke arah kerumunan demonstran dan warga sipil yang berada di sekitar lokasi, memicu kepanikan di berbagai wilayah ibu kota Tiongkok.
Gelombang protes bermula setelah wafatnya tokoh reformis Tiongkok, Hu Yaobang, yang dihormati banyak kalangan mahasiswa. Aksi berkabung kemudian berkembang menjadi gerakan yang menuntut reformasi politik, transparansi pemerintahan, kebebasan berekspresi, serta pemberantasan korupsi.
Seiring berjalannya waktu, jumlah peserta aksi terus bertambah. Jutaan warga dari berbagai lapisan masyarakat dilaporkan turut bergabung dalam demonstrasi yang berpusat di Lapangan Tiananmen.
Pemerintah Tiongkok sebelumnya telah beberapa kali meminta para demonstran membubarkan diri. Namun, setelah upaya tersebut gagal, otoritas memutuskan mengerahkan militer untuk mengendalikan situasi.
Saat operasi berlangsung, korban luka dievakuasi menggunakan becak dan kendaraan seadanya menuju rumah sakit terdekat. Sejumlah laporan juga menyebut penembakan berlanjut hingga pagi hari 4 Juni, menyebabkan bertambahnya jumlah korban jiwa.
Tindakan keras pemerintah Tiongkok saat itu memicu kecaman luas dari komunitas internasional.
Presiden Amerika Serikat saat itu, George H. W. Bush, menyatakan penyesalannya atas penggunaan kekuatan militer terhadap warga sipil. Sementara Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher mengaku terkejut dan ngeri atas peristiwa yang terjadi di Beijing.
Hingga kini, Tragedi Tiananmen tetap menjadi salah satu peristiwa politik paling sensitif dalam sejarah Tiongkok modern. Pemerintah Tiongkok masih membatasi pembahasan publik mengenai peristiwa tersebut, sementara berbagai kelompok hak asasi manusia terus menyerukan keterbukaanjumlah korban dan pertanggungjawaban atas tindakan militer yang terjadi pada Juni 1989.
Lebih dari tiga dekade berlalu, Tragedi Tiananmen masih dikenang sebagai simbol perjuangan demokrasi sekaligus pengingat atas salah satu tindakan represif paling terkenal dalam sejarah politik abad ke-20.
