Harga Minyak Perkasa Gara

BeritaLokal, Jakarta – Harga minyak dunia melonjak tajam pada Rabu, 3 Juni 2026, mengikuti pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa Israel dan AS siap melakukan serangan militer terhadap Iran jika diperlukan. Peningkatan harga minyak Brent dan WTI mencapai puncak tertinggi sejak 2026, dengan indeks Brent ditutup di US$ 97,81 per barel dan WTI di US$ 96,02. Kenaikan ini dipengaruhi oleh risiko konflik regional yang berpotensi memicu krisis pasar minyak global.

“Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan Iran akan ada kembalinya aksi militer skala penuh jika diperlukan,” kata Netanyahu dalam wawancara eksklusif dengan CNBC. Ia menegaskan bahwa Israel siap melakukan demiliterisasi Lebanon dan mengatakan pihaknya berkomitmen untuk mencegah serangan terhadap Hizbullah. Meski perbedaan taktik antara AS dan Israel dianggap kontradiktif, Netanyahu menyebut keduanya sepakat pada prinsip penting seperti penghapusan senjata rudal balistik Iran.

Sementara itu, Iran menolak kesepakatan dengan AS untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur pasokan minyak global. Pernyataan tersebut disertai dengan serangan militer di Lebanon yang menghambat aliran minyak melalui Jalur Hormuz. Komando Pusat AS mengklaim telah mengalahkan beberapa rudal balistik dan drone Iran, sekaligus melakukan serangan defensif setelah upaya serangan oleh pihak Iran.

Laporan berbeda menunjukkan bahwa harga minyak dunia masih berada di atas US$ 80 per barel pada pembukaan perdagangan Rabu. Pemimpin AS Donald Trump mempertanyakan laporan media Iran yang menyebut komunikasi antara Teheran dan Washington terputus, sementara Marco Rubio mengklaim ada prospek negosiasi nuklir Iran. Namun, pihak Iran menegaskan akan menutup Selat Hormuz sepenuhnya tanpa izin AS, meski mereka mempertimbangkan kesepakatan untuk mencegah konflik.

Persediaan global minyak terus menurun karena blokade Hormuz yang melibatkan Iran. Ekspor melalui jalur laut ini jauh di bawah level sebelumnya, menyebabkan krisis pasokan. TD Securities memperkirakan pasar akan kehilangan 1 miliar barel produksi dan 800 juta barel persediaan antara Juni-November bahkan dalam skenario paling optimistis. Ahli strategi komoditas Ryan McKay menyebut kerusakan terjadi, dan harga minyak akan terus mengencang meski ada kesepakatan komprehensif.

Krisis geopolitik memperkuat tekanan pada pasar minyak, dengan risiko lonjakan harga yang signifikan. Pihak-pihak di luar negeri, termasuk pemerintah Iran dan AS, terus berupaya menyelesaikan konflik melalui negosiasi, namun keterbelakangan komunikasi dan ketegangan militer tetap menghantam. Dalam situasi ini, stabilitas ekonomi global mungkin menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi harga minyak.

Artikel Terkait

0