Harga Minyak Naik, Rupiah Lesu Menanggapi Gejolak Pasar

BeritaLokal, Jakarta – Dengan harga minyak yang melonjak, rupiah hari ini lesu terhadap dolar AS, kurs rupiah menurun 43 poin atau 0,24 % menjadi Rp17.979 per dolar AS pada pagi Jumat, 24 Juli 2026, menurut data Antara. Penurunan ini menandai pergeseran nilai tukar di tengah sentimen “risk‑off” global yang dipicu oleh ketegangan di wilayah Timur Tengah. Menjelang akhir pekan, para ekonom memperkirakan volatilitas tetap berlanjut, sementara pemerintah memantau dinamika pasar untuk memastikan stabilitas fiskal.

Gejolak Timur Tengah Menggerakkan Minyak

Selamatidupnya tercatat, Brent oil berangkat di atas US$95 per barel pada Sabtu, 22 Juli, mengusik hakikat pasokan dunia. Serangan infraksi di dekat Selat Bab el‑Mandeb, jalur pelayaran penting, memaksa kapal tanker untuk merencanakan rute alternatif melewati Afrika Selatan. Tindakan tersebut menambah kesulitan logistik, serta meningkatkan persepsi resiko bagi pelaku pasar energi. Selain itu, serangan Houthi atas dua kapal tanker Saudi menggunakan rudal balistik dan drone menambah ketidakpastian geopolitik, memicu ekspektasi lebih tinggi terhadap kebijakan moneter internasional dan penguatan dolar AS sebagai aset safe‑haven.

Selama ini, kebijakan fiskal Indonesia dipertanyakan karena terjadinya twin deficit, yaitu defisit fiskal yang bersamaan dengan defisit neraca transaksi berjalan. Penurunan nilai tukar memotong daya beli impor, memicu tekanan inflasi, dan menambah beban fiskal yang sudah terasa. Sementara itu, ukuran kebijakan moneter bank sentral cenderung menahan langkah-langkah pelonggaran, mempersulit koordinasi antara pasar modal dan pasar devisa.

Dolar AS Meningkatkan Kebutuhan Safe-Haven

Peningkatan ketegangan geopolitik memicu selera investor untuk mengalihkan alokasi modal ke dalam aset aman, sehingga permintaan dolar AS meningkat. Dalam skala lebih luas, nilai tukar rupiah diprediksi tetap berada di kisaran Rp17.900-Rp18.025 per dolar AS sejak Pasar membentuk pola minor yang didorong oleh aset safe‑haven. Perkiraan ini didasarkan pada analisis pasar yang menganggap bahwa tekanan geopolitik belum sepenuhnya terlepas, sehingga risiko volatilitas masih tinggi.

Lebih lanjut, rapat pusat pensiun bekas perlindungan proses terkeluar menunjukkan bahwa diversifikasi portofolio termasuk komoditas energi akan menjadi pilihan utama, memicu kenaikan harga komoditas kritis bagi PDB. Dari sisi fiskal, pemerintah mencermatkan insiden berbahaya ini dengan meninjau kembali budget berkelanjutan, memastikan alokasi pengeluaran tetap akuntabel meski nilai tukar bergunggah ke atas.

Pilihannya telah ditetapkan: pemerintah terus monitor sinyal pasar, di samping memperkuat kebijakan fiskal yang bersaing. Selama memori eksternal tetap di lintasan ketegangan, ekonomi Indonesia harus menyesuaikan diri dengan perubahan global, sekaligus menjaga ketahanan internal terhadap fluktuasi nilai tukar dan harga energi.

Artikel Terkait

0