beritalokal.my.id, Jakarta – Harga Bitcoin mengalami tekanan besar dalam dua hari terakhir. Mata uang kripto terbesar di dunia itu turun dari sekitar USD$ 74.000 menjadi USD$ 65.700 dalam waktu kurang dari 48 jam. Penurunan ini juga menyeret Ethereum yang sempat jatuh di bawah level USD$ 1.900.
Dikutip dari CoinMarketCap, Rabu (3/6/2026), tidak ada satu peristiwa besar yang secara langsung memicu kejatuhan Bitcoin. Tidak ada gangguan pada jaringan blockchain, tidak ada kebangkrutan bursa kripto, maupun regulasi baru yang mengejutkan pasar.
Sebaliknya, aksi jual ini dinilai lebih mencerminkan peristiwa likuiditas. Sejumlah faktor terjadi secara bersamaan, mulai dari arus keluar dana dari ETF Bitcoin, likuidasi posisi investor, kekhawatiran perusahaan yang menyimpan Bitcoin sebagai aset kas, hingga perpindahan modal ke proyek-proyek kecerdasan buatan (AI) dan antariksa yang sedang menggalang dana dalam jumlah besar.
Bitcoin selama ini dikenal sebagai salah satu aset yang paling mudah dijual ketika investor membutuhkan uang tunai dengan cepat. Pasar Bitcoin beroperasi 24 jam sehari dan memiliki likuiditas yang tinggi sehingga sering menjadi sumber dana tercepat bagi investor.
Karena itu, ketika portofolio membutuhkan dana segar untuk peluang investasi baru, Bitcoin kerap menjadi aset pertama yang dilepas meskipun kabar yang muncul tidak berkaitan langsung dengan industri kripto.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. beritalokal.my.id tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Rotasi Dana ke OpenAI dan SpaceX
PerbesarIlustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)
Salah satu teori yang kini banyak dibicarakan pelaku pasar adalah terjadinya rotasi modal dari aset kripto ke pasar ekuitas, khususnya perusahaan teknologi dan AI.
Nilai dana yang dibutuhkan tidak kecil. SpaceX disebut menargetkan penawaran saham perdana (IPO) senilai sekitar USD$ 75 miliar. Sementara itu, OpenAI telah mengamankan komitmen pendanaan lebih dari USD$ 120 miliar.
Di sisi lain, Anthropic dikabarkan berhasil menghimpun dana USD$ 65 miliar dengan valuasi mendekati USD$ 1 triliun. Sementara induk Google, Alphabet, disebut tengah mempersiapkan penggalangan dana sebesar USD$ 80 miliar untuk membangun infrastruktur AI.
Secara total, lebih dari USD$ 300 miliar dana baru kini bersaing memperebutkan modal investor yang sebelumnya juga mengalir ke Bitcoin, saham kripto, saham AI, dan investasi pasar privat.
Logikanya sederhana. Investor yang ingin ikut berpartisipasi dalam pendanaan SpaceX, OpenAI, Anthropic, atau proyek infrastruktur AI membutuhkan dana tunai. Menjual Bitcoin dinilai lebih mudah dan cepat dibandingkan melepas saham perusahaan privat atau investasi jangka panjang lainnya.
Meski demikian, bukan berarti seluruh investor Bitcoin langsung memindahkan dananya ke SpaceX atau AI. Namun kondisi ini menunjukkan pasar sedang menghadapi kebutuhan likuiditas besar dari luar sektor kripto, sementara Bitcoin menjadi salah satu aset berisiko yang paling mudah dicairkan.
Arus Keluar ETF dan Likuidasi Investor
PerbesarIlustrasi Bitcoin (iStockPhoto)
Tekanan terhadap Bitcoin semakin besar karena arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Dalam sembilan sesi perdagangan berturut-turut, sekitar USD$ 2,8 miliar dana keluar dari ETF tersebut. Dalam periode 10 hari, total arus keluar bahkan mendekati USD$ 3 miliar.
Padahal, ETF selama ini menjadi salah satu sumber permintaan terbesar bagi Bitcoin. Ketika aliran dana tersebut melemah, pasar menjadi lebih rentan terhadap tekanan jual.
Sentimen pasar juga terganggu setelah perusahaan Strategy melakukan penjualan Bitcoin pertamanya sejak 2022. Meski jumlah yang dijual hanya 32 BTC, langkah tersebut memicu kekhawatiran investor karena menunjukkan bahwa bahkan perusahaan yang dikenal sangat bullish terhadap Bitcoin pun dapat menjual asetnya ketika membutuhkan likuiditas.
Selain itu, pasar derivatif memperburuk kondisi. Setelah Bitcoin menembus area psikologis USD$ 70.000, gelombang likuidasi posisi beli (long) mulai terjadi. Banyak investor yang sebelumnya berharap harga akan kembali naik akhirnya terpaksa keluar dari pasar.
Para analis kini menilai level USD$ 70.000 menjadi area penting yang harus direbut kembali oleh Bitcoin. Jika harga mampu kembali ke atas level tersebut, penurunan saat ini kemungkinan hanya merupakan aksi jual akibat kebutuhan likuiditas jangka pendek.
Namun jika gagal, perhatian pasar akan tertuju pada area pertengahan USD$ 60.000 sambil memantau arus dana ETF, data likuidasi, serta apakah proyek-proyek AI raksasa masih terus menyedot modal dari pasar kripto.
Meski demikian, sejumlah analis menilai kondisi ini tidak mengubah prospek jangka panjang Bitcoin. Sebaliknya, fenomena tersebut menunjukkan Bitcoin kini telah menjadi aset yang cukup besar dan likuid sehingga sering digunakan investor sebagai sumber dana ketika muncul peluang investasi baru di sektor lain.
