BeritaLokal, Jakarta – Indonesia terus menjadi pionir ekspor minyak kelapa di dunia, dengan pangsa pasar sekitar 22 persen pada 2025. Meski volume ekspor mengalami penurunan 18 persen dari Januari-Desember 2025, nilai ekspor tetap naik lebih dari 43 persen karena lonjakan harga yang dipicu oleh keterbatasan pasokan bahan baku. Kondisi ini memperkuat posisinya sebagai eksportir kedua terbesar di dunia, meski masih jauh dari peringkat Filipina yang menguasai sekitar 49 persen pasar.
Kepala Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani menjelaskan bahwa kenaikan nilai ekspor dipengaruhi oleh tren harga minyak kelapa dimurnikan, produk yang menjadi pilihan utama di pasar global. Namun, tantangan pasokan bahan baku tetap menghiasi perjalanan industri. Produksi kelapa nasional terganggu oleh penuaan tanaman, produktivitas pekebun kecil yang rendah, cuaca ekstrem, serta peningkatan eksportasi kelapa bulat. Pemerintah telah menempuh langkah peremajaan 44,9 ribu hektare kebun kelapa di 2024, dengan rencana memperluas program replanting hingga 2027.
Sementara itu, Indonesia juga menghadapi persaingan ketat dari negara lain seperti Filipina. Rini menegaskan bahwa daya saing produk minyak kelapa dimurnikan masih cukup resilien, terutama dengan strategi hilirisasi dan diversifikasi pasar. Produk Indonesia telah mencapai lebih dari 90 negara, termasuk Tiongkok, Belanda, Malaysia, dan Amerika Serikat. Proses ini memperkuat potensi ekspor untuk mengakses kawasan non-tradisional seperti Eropa.
Analisis eksimbank menilai prospek nilai ekspor minyak kelapa Indonesia akan tumbuh sekitar 9 persen pada 2026. Pemulihan produksi di negara kompetitor dan penyesuaian harga menjadi faktor utama dalam prediksi tersebut. “Kondisi ini memungkinkan industri tetap beradaptasi dengan tren permintaan global yang meningkat,” kata Rini.
Dalam laporan terbaru, pihak Eximbank menyebutkan bahwa kebutuhan minyak kelapa murni terus meningkat karena gaya hidup sehat dan penggunaan produk alami di sektor pangan, kosmetik, serta kesehatan. Upaya peremajaan kebun kelapa dan memperkuat hilirisasi menjadi kunci untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. “Strategi ini diharapkan mampu mendorong ekspor nasional ke depan,” kata Rini.
Dengan mengeksplorasikan potensi pasar Eropa dan kawasan non-tradisional, Indonesia masih memiliki ruang untuk meningkatkan penjualan. Namun, tantangan pasokan dan fluktuasi harga tetap menjadi perhatian.
Artikel Terkait
Harga Minyak Turun, Neraca Perdagangan Indonesia Diprediksi Membaik Juni 2026
14 Juli 2026
Bulog Perkuat Sistem Logistik Pangan dengan 100 Gudang Baru di Indonesia
13 Juli 2026
Prabowo Targetkan Reformasi BUMN Selesai Tahun Ini
28 Juni 2026
AIIB Bakal Buka Kantor di Indonesia, Siapkan Pembiayaan US$ 17 Miliar
26 Juni 2026
Freeport Ajukan Draf Divestasi Saham 12%
18 Juni 2026
Pemerintah Tarik Bea Masuk Antidumping Kertas Karton Dupleks dari 3 Negara
14 Juni 2026Ekspor Batu Bara Satu Pintu Mulai Juni 2026, Ini Tahapannya
31 Mei 2026
Tanggapan Emiten Tambang Terkait Rencana PP Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam
31 Mei 2026
Memuat komentar...