Sentimen Global Membaik Bertahap, Ketidakpastian Membayangi Pasar Keuangan

beritalokal.my.id, Jakarta – Pasar keuangan global melihat sedikit risiko meningkat pekan ini sebagai hasil dari harapan yang lebih tinggi akan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dapat kembali membuka Selat Hormuz.

Selain soal Selat Hormuz, data Personal Consumption Expenditures (CPE) Inti di Amerika Serikat yang sedikit di bawah harapan dan menurunkan harapan pasar terhadap jumlah kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed).

“Meskipun pekan ini kita terus melihat berita yang mengindikasikan gencatan senjata, investor perlahan-lahan memperhitungkan harapan yang lebih tinggi akan kesepakatan karena berita utama menunjukkan kemungkinan lebih tinggi meski ada serangan dari AS dan Iran di tengah pembicaraan,” demikian mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (31/5/2026).

Pelaku pasar telah mengharapkan hal ini tetapi bersifat volatile. Di sisi lain, harga minyak telah terkoreksi menjadi sekitar US$ 92 karena didukung oleh optimisme, tetapi faktor kunci masih bergantung pada persetujuan kesepakatan yang sebenarnya serta pembukaan kembali Selat Hormuz. “Pasar perlu melihat bukti yang lebih substansial sebelum dapat memperkirakan lingkungan yang lebih kondusif,”

Namun, optimisme meningkat karena data PCE inti Amerika Serikat pada April lebih baik dari yang diharapkan dan telah sedikit menurunkan harapan kenaikan suku bunga. Kemungkinan suku bunga naik pada akhir tahun ini menjadi sekitar 50% berdasarkan perkiraan saat ini oleh CME FedWatch.

Imbal hasil obligasi AS juga mengalami sedikit pergerakan dan saham meningkat. Namun, imbal hasil tenor yang lebih panjang tetap tinggi di 4,45% untuk imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun dan 4,98% untuk imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun.

“Salah satu faktor yang membuat imbal hasil obligasi AS tetap tinggi termasuk penurunan peringkat utang AS baru-baru ini oleh Moody’s dari Aaa menjadi Aa1 karena meningkatnya utang dan defisit yang terus menerus, yang berarti AS tidak lagi memiliki peringkat kredit tertinggi dari lembaga pemeringkat manapun,” demikian seperti dikutip.

Sentimen Domestik Dibayangi Penyesuaian MSCI

PerbesarSelasa (9/9/2025) pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ambruk 1,47% ke level 7.653,65. Pergerakan IHSG hari ini masih melanjutkan sentimen negatif pada sore kemarin, Senin (8/9/2025) yang ditutup turun 1,28%. (AP Photo/Tatan Syuflana)

Sementara itu, meskipun sentimen juga membaik di Indonesia, investor masih tertekan oleh ketidakpastian seputar kebijakan yang baru diumumkan serta penyesuaian yang efektif dari indeks MSCI pada akhir sesi perdagangan Jumat, 29 Mei 2026.

Selain itu, Indonesia masih mengalami pelemahan Rupiah meskipun bank sentral menaikkan suku bunga lebih besar dari perkiraan karena investor terus melihat sensitivitas terhadap risiko global dan volatilitas energi. Tekanan semakin diperparah oleh laporan Bank Indonesia yang mencatat defisit transaksi berjalan sebesar US$4 miliar (1,1% PDB) pada kuartal pertama 2026, defisit melebar sejak akhir 2019 karena harga energi global meningkatkan biaya impor.

“Saat ini, kendala makroekonomi terbesar terletak pada rencana sentralisasi ekspor beberapa komoditas seperti batu bara, CPO, dan ferroalloy,”

Meskipun masih ada waktu sebelum rencana tersebut dijadwalkan untuk diluncurkan, investor melihat tantangan dalam implementasinya sambil mempertahankan tata kelola yang kuat. Selain itu, kendala lain tetap ada pada peninjauan peringkat utang oleh S&P yang mungkin akan dilakukan bulan depan yang dapat memengaruhi pergerakan imbal hasil yang telah naik karena investor memperhitungkan sentimen negatif yang lebih besar.

“Dalam kondisi ini, pemerintah masih mendukung imbal hasil obligasi domestik dengan membeli di pasar sekunder,”

 

Pelaku Pasar Menanti Kesepakatan AS-Iran

PerbesarPasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Secara keseluruhan, meskipun sentimen global mungkin membaik secara bertahap, pasar masih berhati-hati karena kesepakatan belum tercapai secara resmi antara AS dan Iran. Selain itu situasinya bisa tetap bergejolak bahkan setelah gencatan senjata.

Pasar masih perlu melihat aktivitas aktual melalui Selat Hormuz sebelum kepercayaan yang lebih besar dapat terlihat untuk mendorong turunnya harga energi.

Untuk Indonesia, penyesuaian atau rebalancing indeks MSCI terjadi pada penutupan sesi perdagangan Jumat pekan ini di mana indeks secara luas turun pada penutupan karena dana pasif menjual atau mengurangi posisi mereka.

Ashmore melihat masih banyak ketidakpastian di pasar, dan percaya investor harus tetap melakukan diversifikasi dan berada pada posisi yang baik untuk melewati volatilitas.

“Kami percaya bahwa pemerintah masih akan mempertahankan batas defisit 3% dan bahwa lingkungan saat ini mendukung investasi pada saham-saham likuid dengan fundamental yang kuat karena valuasi tetap murah secara historis,” demikian seperti dikutip.



error: Content is protected !!