BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah memulai tahapan pengembangan AI keuangan untuk mengatasi tantangan nasihat finansial yang bisa tidak akurat atau bias secara demografis. Penelitian terbaru dari profesor keuangan di University of Georgia dan University of Rome Tor Vergata menunjukkan bahwa kecerdasan buatan (AI) memberikan rekomendasi keuangan yang bervariasi, bahkan berpotensi salah karena keterbatasan pemahaman algoritma.
Selain itu, temuan ini terkait dengan tren penggunaan AI di Amerika Serikat, di mana 66% warga menggunakannya untuk mengelola keuangan, menurut survei Intuit Credit Karma. Jumlah ini lebih tinggi pada generasi Z dan milenial, masing-masing mencapai 82%. Namun, ahli menekankan bahwa AI tidak bisa menggantikan peran manusia dalam pemberian nasihat keuangan yang spesifik.
“Respons yang didorong oleh GenAI mungkin terdengar percaya diri tetapi masih bisa tidak lengkap,” kata peneliti dalam makalah yang diterbitkan di Journal of Financial Planning. Pemilik studi, Swarn Chatterjee, Brenda Cude, dan Gianni Nicolini menyebutkan bahwa kegagalan AI bisa menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi rekomendasi.
AI memiliki risiko halusinasi algoritma, kata Direktur MIT’s Laboratory for Financial Engineering, Andrew Lo, yang menegaskan bahwa jawaban dari AI bisa tidak akurat meskipun terdengar logis. “Ketika menyangkut perhitungan spesifik tentang situasi pribadi Anda, di situlah Anda harus sangat berhati-hati,” ujarnya.
Selain itu, AI sensitif terhadap cara pengguna menulis perintah, sehingga perbedaan kecil dalam input bisa menyebabkan variasi rekomendasi. Tidak ada kewajiban fidusia bagi AI, yang secara hukum tidak diperlukan untuk memberikan nasihat demi kepentingan terbaik pengguna.
Studi lain menunjukkan bahwa AI memiliki batasan dalam memproses data keuangan kompleks. Misalnya, ChatGPT bisa menjadi “titik awal” bagi rumah tangga yang mencari nasihat, tetapi rekomendasinya seringkali generik dan mengabaikan informasi penting. Peneliti menyarankan bahwa hasil dari AI harus diperiksa dengan cermat, terutama dalam situasi spesifik seperti alokasi aset atau penarikan dana.
Ahli keuangan mengkritik penggunaan AI sebagai alat tambahan, bukan pengganti manusia. “AI bisa menjadi alat bantu, tetapi tidak bisa mengambil keputusan yang tepat tanpa pertimbangan konteks pribadi,” kata Lo. Dengan demikian, penting bagi pengguna untuk memahami batasan AI dan memanfaatkannya secara bijak dalam manajemen keuangan pribadi.
Artikel Terkait
Rupiah tekanan tinggi, penyebabnya termasuk inflasi dan harga minyak dunia
9 Juli 2026
RBI Mempertimbangkan Larang Aset Kripto di India
9 Juli 2026
8 Drakor Superkuat, Siap Jadi Teman Akhir Pekanmu
8 Juli 2026
Menteri Keuangan Menolak Permintaan Himbara Perpanjang Tenor Dana SAL
8 Juli 2026
OJK Umumkan Stabilitas Jasa Keuangan di Tengah Ketidakpastian Global dan Inflasi
7 Juli 2026
Cadangan Devisa Indonesia Capai Rp 2.618 Triliun di Juni 2026: Stabilitas Ekonomi Dipertahankan
7 Juli 2026
Laba Bersih PTPN III Meningkat 81%, Sawit Jadi Penopang Utama
6 Juli 2026
20 Rekomendasi Drakor Langsung Tamat di Netflix: Berbagai Genre untuk Maraton Tanpa Jeda
6 Juli 2026
Memuat komentar...