Bagaimana letusan Gunung Laki pada 8 Juni 1783 ini memicu bencana besar yang mengubah iklim dan menewaskan seperempat penduduk Islandia?
PerbesarLava terus menyembur dari gunung berapi di barat daya Islandia pada hari Kamis namun aktivitasnya telah mereda secara signifikan sejak meletus sehari sebelumnya. (AP Photo/Marco di Marco)
, Reykjavík- Pada 8 Juni 1783, letusan Gunung Laki di Islandia memicu salah satu bencana vulkanik paling dahsyat dalam sejarah. Selain menewaskan sekitar seperempat penduduk negara itu akibat kelaparan dan penyakit, letusan tersebut juga menyebarkan gas beracun yang memengaruhi cuaca serta kesehatan masyarakat di berbagai wilayah Eropa.
Dilansir dari Volcano Express, Senin (8/6/2026), Laki bukan merupakan gunung berapi berbentuk kerucut seperti yang umum dikenal. Laki adalah celah vulkanik sepanjang sekitar 27 kilometer yang membentang di dataran tinggi Islandia.
Letusan terjadi ketika magma dari perut bumi bertemu dengan air tanah, memicu ledakan besar yang berlangsung selama sekitar delapan bulan. Selama periode tersebut, Laki memuntahkan sekitar 42 miliar ton lava basal yang menutupi wilayah seluas 565 kilometer persegi.
Namun, para ilmuwan menilai ancaman terbesar bukan berasal dari aliran lava, melainkan dari gas beracun yang dilepaskan ke atmosfer. Letusan itu diperkirakan mengeluarkan sekitar 120 juta ton sulfur dioksida dan 8 juta ton hidrogen fluorida.
Dampaknya sangat menghancurkan bagi Islandia. Abu dan gas vulkanik mencemari lahan penggembalaan sehingga tanaman dan rumput menjadi beracun. Akibatnya, sekitar 80 persen populasi domba mati dan krisis pangan melanda seluruh negeri.
Bencana tersebut diperkirakan menyebabkan sekitar 9.000 orang meninggal dunia atau hampir seperempat dari total penduduk Islandia saat itu.
Salah satu kesaksian paling terkenal mengenai letusan tersebut berasal dari seorang pendeta bernama Jón Steingrímsson. Dalam catatannya, ia menggambarkan abu vulkanik yang jatuh seperti salju dan bau belerang yang menyelimuti wilayah tempat tinggalnya selama berbulan-bulan.
Dokumentasi yang dibuat Steingrímsson kemudian menjadi salah satu sumber sejarah penting dalam memahami dampak kemanusiaan akibat letusan Laki.
Pengaruh letusan juga dirasakan jauh di luar Islandia. Awan gas dan partikel vulkanik menyebar ke berbagai wilayah Eropa, menciptakan kabut tebal berbau belerang yang memicu gangguan pernapasan di sejumlah negara.
Di Inggris, naturalis Gilbert White mencatat fenomena tersebut sebagai “kabut aneh” yang belum pernah disaksikannya sebelumnya. Peristiwa itu menjadi salah satu contoh paling awal bagaimana letusan gunung berapi dapat menimbulkan dampak lintas negara dan memengaruhi kehidupan masyarakat dalam skala global.
