Top 3: Rupiah Masih Loyo

BeritaLokal, Jakarta – Kurs dolar AS terus menggeledah level Rp 18.000 hingga Rp 18.150 per dolar di pasar uang Indonesia, menunjukkan tekanan terhadap rupiah yang berlanjut meski ekonomi kasektor sebelumnya tetap stabil. Kondisi ini memicu perhatian publik dan pemerintah dalam menggali penyebab utama kelemahan nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, kurs jual dolar di beberapa bank nasional tercatat melebihi Rp 18.000 pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Bank Central Asia (BCA) menetapkan harga beli dolar sebesar Rp 18.020 dan jual Rp 18.040, sementara Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat harga beli Rp 18.018 dan jual Rp 18.038. Bank Mandiri memperlihatkan kurs Special Rate dengan harga beli Rp 18.050 dan jual Rp 18.080, sementara Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat level jual tertinggi sebesar Rp 18.150. Perbedaan kurs ini mengindikasikan kebijakan perbankan yang beragam dalam merespons fluktuasi pasar valuta asing.

Di pasar spot, rupiah masih terpantau tekanan meski nilai tukarnya tidak secara signifikan melemah. Pada pembukaan perdagangan Jumat, rupiah tercatat melemah 17 poin atau sekitar 0,09% ke posisi Rp 18.066 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 18.049. Namun, harga dolar AS sempat naik ke level Rp 18.040 sebelum mengalami kipas turun hingga Rp 18.027.

Sementara itu, tren PHK (pemutusan hubungan kerja) di Indonesia terus berlanjut. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 23.470 pekerja mengalami PHK antara Januari hingga Mei 2026, dengan Jawa Barat menjadi provinsi tertinggi dengan 5.044 pekerja terkena PHK. Data ini disusul Banten (2.596) dan Jawa Timur (2.332). Dalam kategori lainnya, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, serta beberapa provinsi lain juga mengalami penurunan angka PHK.

Pemerintah DKI Jakarta mencatat sebanyak 1.746 pekerja terkena PHK di DKI, sementara Jawa Tengah dan Sumatera Selatan masing-masing menyumbang 1.515 dan 920 pekerja. Kebijakan pemerintah dalam mengatasi kebijakan ekonomi dan mitigasi dampak PHK terus menjadi fokus perhatian.

Dalam rangka memantau kondisi ekonomi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali membantah kabar yang menyebutkan dirinya akan mengundurkan diri dari jabatan. Ia menegaskan bahwa informasi tersebut tidak berdasar dan menyatakan pribadi pribadinya lebih suka maju daripada mundur. Purbaya juga membenarkan beberapa informasi terkait isu ini, meskipun ada sebagian yang disebarkan dengan sengaja.

Kondisi ekonomi Indonesia tetap stabil dalam menghadapi tekanan global dan tren PHK. Kinerja perekonomian sektor pertanian, industrial, serta infrastruktur terus mempertahankan tingkat keseimbangan yang baik. Dengan demikian, kebijakan pemerintah terus dijalankan untuk mencegah dampak negatif terhadap ekonomi nasional.

Berita selengkapnya bisa dibaca di sini.

Artikel Terkait

0