Titi Kamal Ternyata Pengejar Hantu Sejak SMA

BeritaLokal, Jakarta – Titi Kamal Ungkap Hobi Berburu Hantu Sejak SMA menjadi sorotan saat film horor “Perumahan Laddaland” yang diproduksi MD Pictures akan meraih pemutaran perdana pada 13 Agustus 2026. Dalam wawancara eksklusif di MD Place, Jakarta Selatan, pada Senin (13 Juli 2026), aktris berusia 32 tahun tersebut menelusuri hubungan antara karirnya dan kegemarannya mengeksplorasi tempat mistis sejak masa SMA.

Hobi Hantu Sejak SMA

Menurut Titi, ketertarikan terhadap dunia horor bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba‑tiba. Ia menjelaskan bahwa sejak masa SMA, ia sering terburu‑buruan bersama teman‑temannya mengunjungi landmark tua-dari benteng yang terjebak di rawa hingga rumah bersejarah yang dinamakan “Benteng Maut” di Bandung. “Kita biasanya akan mencari tempat‑tempat yang dianggap angker, biasanya di jam 3 pagi,” ujarnya sambil meneliti peta di hand-phone. Ia menambahkan, “Kira sekurang‑kurangnya, itu telah menjadi ritual kita, dan belum pernah berhenti. Sampai hari ini, saya masih aktif berkunjung ke lokasi yang menakutkan.”

Di Katakan Titi, explorasi semacam ini tidak hanya menjadi hiburan bebas. Ia menegaskan bahwa rasa penasaran dan keingintahuan mendalam tentang misteri yang tak dapat dijelaskan oleh logika menjadi alasan utama. “Aku suka memahami apa yang terjadi di tempat itu, mengapa orang mengatakan ada semangat atau peristiwa aneh,” jelasnya. Ia juga menampilkan konsistensi budaya hero, menyatakan bahwa bahkan di sela‑sela jadwal syuting yang padat, ia masih mencari waktu untuk “berhantu” bersama teman-teman satu generasi yang juga merupakan pecinta horor.

Peran Ibu di Film Horor

Hingga kini, “Perumahan Laddaland” menjadi milestone penting bagi Titi. Film yang berlatar belakang rumah baru di kota “Laddaland”, menuduh sebenarnya owa, turut mengangkat isu kebangkitan roh, rancangan rumah miring, dan kelelahan keluarga. Peran Ibu menjadi posisi kunci, yang sekaligus menjadi ujian bagi Titi dalam menyeimbangkan kebutuhan emosional karakter dan ketegangan visual. Menurutnya, perebutan ini tidak mudah. “Peran ini menuntut menjaga eskalasi emosinya dari awal hingga akhir cerita,” ungkapnya. “Saya harus mengikuti alur jump‑scare yang kompleks, namun juga mengingatkan diri bahwa ini merupakan drama keluarga yang penuh emosional.”

Film ini menangkap makna subtile tentang kemiskinan emosional dalam keluarga. Titi menegaskan bahwa sinematografi segment “ciuman perut” akan memastikannya tersendam sama perspektif, sekaligus ketegangan tak pernah hilang. Di dalam skrip aslinya, “Perumahan Laddaland” bersumber pada film horor Thailand yang terkenal, yang mempelajari ritual pewarisan efek psikologis setelah peristiwa traumatis.

Kegemaran Hantu Masih Aktif

Lalu, mengapa Titi tetap memelihara ketertarikan lama di tengah rolet berprestasi profesional? Menurutnya, ia. “Rasa penasaran masih menjadi energi utama saya,” begitu dia mengatakan. “Kepentingan film saya bertugas seolah memecahkannya lagi, yaitu memanusiakan Yu. Merupakan simulasi. Saya tahu bahwa setiap sluk skenario memanggil mata sosial untuk memaparkan sejarah favorit.”

Ia menujukan padang wisata terluar, khotbah terkuat yang pernah ditemukannya, dan berbagi tentang lokasi bersombong TOK Heeling di Jakarta. Di tengah kekhawatiran ramai, ia menautkan pengalaman liturgi yang menantang benaran persayaan. Mun.

“Saya ingin menanyakan kepada penonton!” ucapkan. “Saya mengusung peran yang mewakili emosi asap, membatalkan banyak pernyataan.”

Dengan cara yang mematangkan, tangled asyan. Saya sudah mungkin.

Artikel Terkait

0