Surplus 72 Bulan Beruntun, Neraca Dagang Indonesia April Sentuh Rp 1,6 Triliun

beritalokal.my.id, Jakarta – Indonesia sukses mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$ 90 juta atau Rp 1,60 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.850)  pada April 2026. Melanjutkan tren surplus neraca dagang selama 72 bulan secara berturut-turut sejak Mei 2020. 

Angka surplus ini didapat setelah Indonesia mengantongi total nilai ekspor sebesar US$ 25,30 miliar atau Rp 451,56 triliun pada April 2026. Lebih tinggi dibandingkan total nilai impor sebesar US$ 25,21 miliar atau Rp 449,5 triliun pada bulan yang sama. 

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekspor April 2026 membukukan kenaikan hingga 21,98 persen dibandingkan April 2025.  “Nilai ekspor migas tercatat sebesar USD 1,15 miliar, turun 1,02 persen. Sementara nilai ekspor non migas tercatat naik 23,36 persen dengan nilai USD 24,15 miliar,” jelas Deputi Badan Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini, Selasa (2/6/2026).

Kenaikan nilai ekspor April 2026 secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan nilai ekspor non migas, yakni pada komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati (HS 15) yang naik 66,59 persen, dengan andil 5,91 persen terhadap total kenaikan ekspor. 

Kedua, nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 75,52 persen dengan andil 2,17 persen. Serta mesin serta peralatan mekanis dan bagiannya (HS 84) naik 57,90 persen dengan andil 1,74 persen. 

Impor April 2026

Pada April 2026, total nilai impor Indonesia mencapai USD 25,21 miliar, atau meningkat 22,49 persen dibandingkan April 2025. Pudji menyampaikan, impor Indonesia mengalami lonjakan pada bulan tersebut, baik untuk komoditas migas maupun non migas. 

“Nilai impor migas sebesar USD 4,60 miliar atau meningkat 82,52 persen secara tahunan. Sedangkan impor non migas USD 20,62 miliar dan mengalami peningkatan secara tahunan sebesar 14,11 persen,” paparnya. 

Neraca Perdagangan Januari-Maret 2026 Tembus Rp 96 Triliun, Surplus 71 Bulan Beruntun

PerbesarSebuah kapal bersandar di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (26/5). Penyebab kinerja ekspor sedikit melambat karena dipengaruhi penurunan aktivitas manufaktur dan mitra dagang utama, seperti AS, China, dan Jepang. (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)

Sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia hingga Maret 2026 masih mencatat kinerja positif di tengah dinamika global. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, surplus neraca perdagangan secara kumulatif pada Januari-Maret 2026 mencapai USD 5,55 miliar, atau setara Rp 96,29 triliun (kurs Rp 17.350 per dolar AS).

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, surplus tersebut ditopang oleh kinerja positif perdagangan komoditas non migas yang terus berlanjut, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit.

“Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,55 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas non migas USD 10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 5,08 miliar,” terangnya, Senin (4/5/2026).

Adapun nilai ekspor kumulatif periode Januari-Maret 2026 mencapai USD 66,85 miliar atau Rp 1.159,8 triliun, naik 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

 

 

Sektor Industri Pengolahan

PerbesarAktivitas di JICT, Jumat (15/3). Menko Perekonomian Darmin Nasution, mengisyaratkan kekhawatirannya terhadap kinerja impor yang kendur pada Februari 2019, meskipun hal ini membuat neraca perdagangan RI surplus. (beritalokal.my.id/Helmi Fithriansyah)

Sektor industri pengolahan menjadi pendorong dengan pertumbuhan nilai ekspor 3,96 persen menjadi USD 54,98 miliar atau setara Rp 953,9 triliun.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga Maret 2026 sebesar USD 61,30 miliar (Rp 1.063,55 triliun), naik 10,05 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Penyumbang utama masih berasal dari sektor non migas, dengan nilai impor USD 52,97 miliar (Rp 919 triliun), naik 12,16 persen. Sedangkan impor migas turun 1,72 persen menjadi USD 8,33 miliar (Rp 144,3 triliun).



error: Content is protected !!