Strategi Holding Cash di Lembaga Kripto

BeritaLokal, Jakarta – Strategy, perusahaan kripto terkemuka yang dikenal karena kepemimpinan Michael Saylor, mengejutkan pasar dengan keputusan untuk memilih menimbun kas daripada membeli Bitcoin (BTC) meski mengumpulkan dana segar sebesar Rp 8,46 triliun. Pernyataan ini menjadi sorotan setelah perusahaan menjual saham MSTR kelas A melalui program penawaran at-the-market (ATM) pada 6 dan 12 Juli 2026, mengumpulkan US$ 4,466,7 juta atau Rp 8,45 triliun. Namun, strategi ini bertentangan dengan kebiasaan sebelumnya, di mana Strategy selama bertahun-tahun telah memperkuat posisi kripto melalui konversi dolar menjadi BTC.

Selain itu, Strategy meningkatkan cadangan kas menjadi rekor US$ 3 miliar atau Rp 54,35 triliun. Dengan hingga 13 Juli, perusahaan masih memegang 843.775 BTC senilai US$ 63,69 miliar atau Rp 1,153 triliun, dengan harga rata-rata pembelian sekitar US$ 75.476 atau Rp 1,36 miliar. Keputusan ini memicu pertanyaan investor tentang apakah Saylor sedang menyiapkan penurunan Bitcoin yang lebih besar untuk membeli BTC.

Berdasarkan pengajuan SEC, Strategy menjual 4.818.781 saham MSTR kelas A, mengumpulkan US$ 4,466,7 juta. Perusahaan tidak menjual saham preferen, termasuk STRC, STRF, STRK, atau STRD selama periode sama. Meski mengumpulkan dana baru, Strategy tetap memilih menahan uang tunai, meskipun kini memiliki ruang untuk meningkatkan modal sebesar US$ 23,7 miliar di bawah MSTR.

Mengapa keputusan ini? Saylor dan tim perusahaan mengklaim bahwa kebijakan ini bertujuan memperkuat likuiditas strategi. Dengan menjual BTC senilai US$ 216 juta pada 6 Juli, Strategy ingin menutupi kewajiban likuiditas yang terjadi di pasar. Selain itu, cadangan dolar AS mencapai rekor US$ 3 miliar, meningkat sekitar US$ 450 juta dari periode sebelumnya. Kebijakan ini juga memperkuat neraca perusahaan, membantu menutupi pembayaran dividen, dan memberikan kepercayaan lebih besar kepada investor yang memegang produk seperti STRC.

Analisis singkat: Keputusan Strategy untuk tidak membeli Bitcoin mungkin mencerminkan ketidaknyamanan dalam pasar kripto saat ini. Harga BTC terpantau di level harga jual rendah, sehingga pelaku pasar berharap ada peluang pembelian yang lebih baik di masa depan. Saylor, pendiri Strategy, juga mengatakan bahwa perusahaan sedang membangun likuiditas untuk menggandeng strategi investasi jika kondisi pasar menjadi lebih menarik.

Strategi Holding Cash di Lembaga Kripto

Dengan kepemilikan BTC sebesar 843.775 unit senilai US$ 63,69 miliar atau Rp 1,153 triliun, Strategy kini memegang salah satu posisi kas terbesar di dunia. Perusahaan juga menambah cadangan dolar AS menjadi rekor US$ 3 miliar, meningkat sekitar US$ 450 juta dari periode sebelumnya. Selain itu, perusahaan memiliki ruang untuk meningkatkan modal lebih lanjut, dengan lebih dari US$ 23,7 miliar tersisa di bawah MSTR pada program penawaran pasar.

Pertimbangan strategis terlihat jelas: Strategy memilih menahan uang tunai agar tidak terlalu tergantung pada kripto yang bisa mengalami fluktuasi tajam. Dengan cadangan dolar AS yang besar, perusahaan dapat lebih mudah menutupi pembayaran dividen dan kewajiban utang. Kebijakan ini juga mencerminkan kebijakan jangka panjang perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara kepemilikan aset kripto dan kewajiban terhadap investor saham.

Krisis Kripto: Strategy Menimbun Kas Sebelum Beli Bitcoin

Sebelumnya, Strategy (MSTR) mengonfirmasi telah menjual 32 Bitcoin untuk membiayai pembayaran dividen bulanan bagi investor yang memiliki saham preferen STRC. Langkah ini dilakukan di tengah upaya perusahaan menjaga keseimbangan antara kepemilikan aset kripto dan kewajiban kepada para pemegang saham. Dalam dokumen yang diajukan ke regulator, Strategy menyebutkan bahwa penjualan BTC digunakan untuk mendukung pembayaran dividen bulanan STRC.

Selain menjual sebagian cadangan BTC, perusahaan juga mengumpulkan dana sekitar US$ 128,3 juta melalui penjualan 801.994 lembar saham biasa. Hingga 31 Mei 2026, Strategy masih memegang 843.706 BTC, membuat perusahaan tetap menjadi salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia. Saham preferen STRC merupakan instrumen investasi yang memberikan dividen variabel setiap bulan dengan target imbal hasil tahunan sebesar 11,5%.

Besarannya dividen bisa berubah mengikuti harga perdagangan saham STRC dibandingkan nilai nominalnya. Dengan demikian, keputusan Strategy untuk menjual BTC tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan likuiditas, tetapi juga mencerminkan perubahan strategi investasi dalam mengoptimalkan pendapatan dari aset kripto.

Manajemen Keuangan Perusahaan dengan Pemegang Saham

Keputusan Strategy untuk memilih menimbun kas daripada membeli Bitcoin menjadi poin penting dalam dunia kripto saat ini. Pemilikan BTC yang besar membuat perusahaan rentan terhadap fluktuasi harga, sehingga kebijakan ini disebut sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko. Dengan menahan uang tunai, Strategy dapat lebih fleksibel dalam memanajemen dana dan menjaga keseimbangan antara investasi kripto dan instrumen lainnya.

Analisis singkat: Kebijakan ini juga mencerminkan tren perusahaan untuk fokus pada manajemen keuangan yang lebih terstruktur, terutama di tengah krisis pasar kripto yang masih mengalami koreksi. Saylor dan tim perusahaan menegaskan bahwa langkah ini bertujuan memperkuat likuiditas dan menjaga stabilitas finansial perusahaan. Dengan demikian, keputusan ini tidak hanya berdampak pada Strategy tetapi juga menjadi contoh bagi perusahaan kripto lain dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.

Artikel Terkait

0