BeritaLokal, Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), mencatat kenaikan 0,71% menjadi 17.860 per dolar AS. Kombinasi sentimen domestik yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap fiskal menjadi pemicu kembali memperkuat rupiah.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke level 17.921 per dolar AS, dari 17.981 sebelumnya. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa faktor dominan adalah koordinasi BI dan pemerintah yang lebih kuat, kenaikan suku bunga acuan, daya tarik imbal hasil aset rupiah, serta data APBN Mei yang relatif lebih baik. Defisit APBN masih terkendali, keseimbangan primer surplus, dan pendapatan negara tumbuh cukup kuat.
Kenaikan suku bunga acuan BI menjadi 5,50% memberikan bantalan terhadap rupiah. Selain itu, penguatan data tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih tinggi menarik dana asing, terutama ke SRBI dan SBN tenor pendek dan menengah. Namun, pasar masih menunggu bukti bahwa disiplin fiskal bisa dipertahankan hingga akhir tahun, karena belanja pemerintah biasanya meningkat pada semester kedua dan risiko subsidi energi masih besar.
Sementara itu, penguatan rupiah tertahan oleh kombinasi penguatan dolar AS, kehati-hatian pelaku pasar menjelang akhir pekan, serta ketidakpastian global. “Berita dari Timur Tengah membuat dolar AS kembali diminati sebagai aset yang dianggap lebih aman,” kata Josua. Meski demikian, rupiah tetap rentan karena ekspektasi The Fed (Federal Reserve) akan mempertahankan suku bunga tinggi dan harga minyak masih bergejolak.
Negosiasi AS-Iran juga menjadi perhatian pasar. Data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang menunjukkan tekanan inflasi lebih tinggi dari perkiraan pasar memperkuat ekspektasi Bank Sentral AS untuk tetap mempertahankan suku bunga tinggi. Investor memantau perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, yang dinilai dapat memengaruhi pasokan energi global.
Amru Syifa, dari ICDX, mengatakan kebijakan moneter ketat membantu meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik. Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Dengan mempertimbangkan sentimen domestik dan global, Amru memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 17.980 per dolar AS dalam perdagangan hari ini. Pelaku pasar kini menunggu perkembangan lebih lanjut dari kebijakan The Fed serta hasil negosiasi AS-Iran, yang berpotensi menjadi katalis baru bagi pergerakan rupiah dan pasar global.