BeritaLokal, Jakarta – Rupiah terus mengalami pelemahan hari ini, mencatat penurunan sebesar 0,25 persen ke level Rp17.989 per dolar AS, menandai keterpurukan ekonomi global yang terus berlanjut akibat ketegangan geopolitik dan minat investor terhadap obligasi. Perubahan ini disebabkan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk serangan udara Iran terhadap aset militer AS di Kuwait dan Bahrain, serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi yang mengindikasikan ketidakpastian pasar.
Selain itu, perluasan kekerasan di wilayah bagian selatan Iran, seperti Kargan dan Minab, menambah tekanan pada kinerja rupiah. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer tambahan sebagai respons terhadap aksi “membela diri” AS terkait aktivitas serangan udara Iran. Peristiwa ini memperparah ketegangan di kawasan Teluk, yang sebelumnya sudah mengguncang pasar keuangan dengan perubahan kurs spot rupiah.
Pada penutupan perdagangan Kamis (12/6/2026), JISDOR Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah turun 45 poin atau 0,25 persen ke Rp17.989 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.944. Kurs ini menunjukkan penurunan yang signifikan, terutama setelah IRGC mengumumkan serangan terhadap aset militer AS di Kuwait dan Bahrain. Serangan tersebut mencakup Pangkalan Udara Ali Al Salem, Ahmad Al Jaber, dan Sheikh Isa di Kuwait, serta beberapa target di Bahrain.
Analisis dari Bank Woori Saudara menyoroti bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi dua faktor: ketegangan geopolitik dan penurunan minat investor terhadap obligasi pemerintah. Kenaikan imbal hasil obligasi pada tenor 10 tahun mencapai 7,45 persen, 8 tahun 7,46 persen, serta 5 tahun 7,47 persen menunjukkan keputihan investor terhadap risiko pasar. Rully Nova, analis Bank Woori Saudara, menyebutkan bahwa kenaikan yield ini mencerminkan ketidakpastian yang muncul di pasar, mengindikasikan kehati-hatian pelaku keuangan.
Pertumbuhan ketegangan di Timur Tengah terus memperluas dampak pada pasar global, dengan rupiah menjadi salah satu mata uang paling rentan. Dalam skenario terburuk, penurunan rupiah bisa mencapai 10-20 persen dalam minggu depan jika konflik terus berlangsung. Para ahli memperingatkan bahwa risiko krisis keuangan mungkin muncul jika investor kehilangan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Situasi ini juga mengancam sektor perbankan, dengan pihak bank-bank lokal memperketat pengawasan atas transaksi internasional. Dalam skenario yang terburuk, rupiah bisa turun hingga Rp17.500 per dolar AS jika harga kripto dan saham global melemah. Perubahan ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan dari ketegangan geopolitik global yang terus berlanjut.