BeritaLokal, Jakarta – Harga Nikel Diprediksi Menguat, Konflik Timur Tengah jadi Pemicu. Pasar logam dasar menunjukkan sinyal kuat bahwa tekanan geopolitik di kawasan tersebut, khususnya hubungan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz, akan menuntun harga nikel mendarat di level baru yang belum pernah tercapai sejak persaingan global menandai kemungkinan di US$ 18.000 per ton, atau sekitar Rp 322,92 juta per ton dengan kurs dollar menguat di kisaran 17.940.
Pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, harga nikel global memperlihatkan langkah pemulihan setelah bertahun-tahun terjerat oversupply. Ibnu Ibrahim Assuaibi, analis ekonomi, mata uang, dan komoditas, menegaskan bahwa penurunan harga yang terjadi secara bersamaan dengan peningkatan stok yang melimpah berasal dari kenaikan permintaan kendaraan listrik berbasis lithium, sehingga menurunkan kebutuhan nikel dan menyebabkan penumpukan persediaan. Konsep oversupply ini menandakan bahwa pasokan lebih besar daripada permintaan pada waktu itu, sehingga tekanan jual menurun, menurunkan harga.Â
Namun, dikemukakan oleh same ahli tersebut, kondisi ini mulai bergeser setelah maraknya konflik regional. Sulfur, komponen penting dalam prosesi pemasakan bijih nikel, dipastikan mengalami kekurangan pasokan akibat intervensi logistik yang dihasilkan dari ketegangan di Timur Tengah. Kepadatan dunia logistik bersumber dari wilayah ini menjadi faktor pendukung bagi produsen nikel.
Apabila kerusuhan di Selat Hormuz berlanjut, produsen nikel di kawasan lain harus menukar sumber sulfur mereka ke negara lain, harga transportasi pun ikut naik, dan akhirnya biaya produksi keseluruhan melebar. Faktor biaya logistik ini ikut mendorong para analis menilai bahwa kenaikan harga nikel tak sekadar akibat faktor permintaan internal, melainkan pengaruh eksternal, yakni tekanan geopolitik.
Untuk menanggapi dinamika pasar, Ibrahim menyatakan bahwa dalam beberapa minggu mendatang, harga nikel berpotensi melampaui batas US$ 18.000 per ton. Ia menekankan bahwa pada momen di mana konflik terpanjangan, pasar akan tetap memanfaatkan ketegangan geopolitik sebagai katalisator, dengan menilai bahwa koreksi harga yang sebelumnya terjadi akibat oversupply cukup stabil. Dengan mempertahankan situasi ketegangan, produsen masih bersedia menyesuaikan struktur biaya mereka untuk menaru harga di tingkat baru.
Di sisi lain, kondisi politik berbatasan di Timur Tengah menimbulkan ketidakpastian bagi komoditas terkait. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menuntut distribusi ulang logistik sulfur, yang lama bersumber dari wilayah tersebut. Pada waktu ini, kebijakan ekspor sulfur dari Iran bisa dibatasi oleh rezim Iran atau sedang diblokir oleh sekutu sekutu lain dalam perang siber dan militer. Ketidakpastian ini memaksa pelaku pasar perlahan untuk menyesuaikan strategi harga dan memandang eskalasi sebagai peluang baru bagi pasar komoditas.
Pada tingkat psikologis pasar, persepsi para pelaku bahwa harga nikel akan naik setelah periode turun menstimulasi aksi beli. Pada saat-saat tertentu, pola psikologis ini bisa menimbulkan pendorong nilai. Proyeksi ini mengacu pada potensi harga nikel melintasi US$ 18.000 per ton, menandai sebuah titik pembalikan penting bagi Reksadana indeks komoditas yang mengikuti trend. Hartanah bl yang merujuk kepada volatilitas harga komoditas terungkap pula bahwa kondisi geopolitik yang bersifat tidak stabil dapat menyebabkan pergeseran sentimen pasar.
Melanjutkan analisis, lembaga keuangan global menilai bahwa biaya produksi nikel akan tetap berada di tingkat tertentu akibat keterbatasan sulfur. Dalam konteks ini, norma pasar menilai bahwa penambah nilai produksi menjadi lebih kuat daripada kenaikan harga, sehingga perubahan harga menjadi relatif lebih halus. Juga ditambahkan bahwa politik stabilitas di kawasan Timur Tengah akan mempengaruhi kebijakan pasokan kuantitas yang berujung pada penyesuaian nilai tukar komoditas.
Sehingga, dalam jangka pendek hingga menengah, keadaan ketegangan geopolitik akan menjadi faktor utama yang memengaruhi perilaku harga nikel. Perubahan pada acara pergerakan pasokan sulfur ke wilayah lain, serta meta-persepsi pasar, dapat memicu kenaikan harga di hindari ke level US$ 18.000 per ton.บท
Artikel Terkait
Harga Emas Mengambang di Tengah Geopolitik, Pasar Bearish
20 Juli 2026
Harga Nikel Naik, Konflik Timur Tengah Sebagai Pemicu
20 Juli 2026
Harga Emas Dunia Tetap Stabil, Investor Diikuti Data Inflasi
17 Juli 2026
Bursa Mineral Resmi Mulai 2027, OJK Siap Nikmatkan Investor
16 Juli 2026
Harga Emas Antam Turun Rp 20 Ribu, Investor Perlu Pantau Inflasi dan Kebijakan Fed
13 Juli 2026
Harga Emas Melemah, Investor Tunggu Pemutaran The Fed
8 Juli 2026
Harga Emas 24 Karat Stabil di Antam dan Pegadaian 6 Juli 2026: Harga Murah!
6 Juli 2026
Komoditas Terancam Usai Serangan Rusia ke Kyiv Makin Masif
6 Juli 2026
Memuat komentar...