BeritaLokal, Jakarta – Perdagangan mata uang rupiah pada Selasa (23/6/2026) terlihat kacau akibat tekanan dari data ekonomi global dan perubahan dinamika pasar. Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran 17.840 hingga 17.890 per dolar AS, meski tidak terlalu signifikan. Perubahan ini disebabkan oleh tekanan dari sentimen global dan kekhawatiran terkait data ekonomi AS yang akan diumumkan dalam seminggu mendatang.
Pada perdagangan Senin (22/6/2026), rupiah ditutup melemah 39 poin menjadi 17.843 per dolar AS, meski sempat menguat 15 poin di awal sesi. Kenaikan ini terjadi karena kekhawatiran investor terkait kinerja ekonomi global dan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang potensi aksi militer terhadap Iran. Pernyataan tersebut memicu pasar memilih aset yang lebih aman, sehingga rupiah mengalami tekanan.
Selain itu, negosiasi antara AS dan Iran di Swiss terus berlanjut, dengan kedua pihak menyepakati peta jalan selama 60 hari menuju kesepakatan yang lebih luas. Meski demikian, pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh dinamika pasar keuangan global dan ekspektasi terkait data ekonomi AS, seperti Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE).
Analisis ekonomi menunjukkan bahwa perubahan inflasi atau pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan dapat mendorong penguatan dolar AS, memperparah tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Pasar kembali bergejolak karena kekhawatiran terkait risiko krisis keuangan global.
Pasar menunggu data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis pekan ini, termasuk revisi PDB kuartal I 2026 dan Core PCE, untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Kebijakan moneter yang lebih ketat dapat mengganggu stabilitas mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Sementara itu, diplomasi antara AS dan Iran terus berlangsung untuk mencapai kesepakatan yang selesai dalam waktu singkat. Meski belum ada hasil resmi, progres pertama pembicaraan di Swiss memberi harapan bahwa negosiasi teknis akan terus berlanjut hingga kesepakatan ditetapkan.
Pengamat menekankan pentingnya kebijakan moneter dan diplomasi dalam mengurangi tekanan terhadap rupiah. Dengan kinerja data ekonomi yang menentukan, pasar harus memantau perkembangan secara real-time untuk memprediksi arah pergerakan mata uang.