Rp 4,1 Triliun Dana Asing Kabur dari Pasar Saham RI

Di tengah derasnya arus keluar modal asing dari pasar saham Indonesia, OJK mencatat jumlah investor domestik justru terus bertambah.

PerbesarPekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (/Angga Yuniar)

, Jakarta – Aksi jual investor asing masih membayangi pasar saham Indonesia sepanjang Mei 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dana asing keluar dari pasar saham domestik sebesar Rp 4,1 triliun pada periode tersebut seiring tingginya ketidakpastian global dan domestik.

“Investor asing tercatat memungkukan net sale di pasar saham sebesar Rp 4,1 triliun month to month pada periode laporan,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, dalam Konferensi Pers Hasil RDKB Mei 2026, Jumat (5/6/2026).

Namun, di tengah derasnya arus keluar modal asing, jumlah investor domestik justru terus bertambah. OJK mencatat penambahan 1,26 juta investor pasar modal dalam satu bulan. Dengan penambahan tersebut, total jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 27,75 juta investor.

Secara year-to-date, jumlah investor tumbuh 36,27 persen dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Lonjakan jumlah investor menunjukkan pasar modal masih menjadi pilihan masyarakat untuk mengembangkan aset dan melakukan investasi jangka panjang.

“Jumlah investor di pasar modal melanjutkan tren peningkatan dengan kembali terjadi penambahan sebesar 1,26 juta investor month to month di bulan Mei 2026, sehingga tercatat total jumlah investor mencapai 27,75 juta atau tumbuh sebesar 36,27 persen year-to-date,” ujarnya.

 

OJK Nilai Ketahanan Pasar Tetap Terjaga

PerbesarSeorang juru kamera merekam layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang anjlok signifikan selama pembukaan pasar, di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta pada Rabu 13 Mei 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Meski terjadi aksi jual asing dan tekanan pada indeks saham, OJK menegaskan kondisi pasar modal nasional masih berada dalam kondisi yang relatif stabil.

Hasan menjelaskan salah satu indikator yang menunjukkan ketahanan pasar adalah likuiditas perdagangan yang tetap terjaga. Rata-rata BID dan spread selama Mei 2026 tercatat berada di level rendah, yakni sekitar 1,5 persen.

“Di tengah dinamika tersebut, kondisi pasar modal domestik tetap menunjukkan tingkat ketahanan yang memadai. Hal ini tercermin dari likuiditas yang tetap terjaga, di mana rata-rata BID dan S-Spread pada Mei 2026 terjaga di tingkat yang rendah pada level 1,5 persen. Ini mencerminkan bahwa likuiditas pasar tetap terjaga baik,” jelasnya.

Selain ditopang oleh investor domestik yang terus bertambah, pasar modal juga masih menjalankan fungsinya sebagai sumber pembiayaan bagi dunia usaha. Hingga akhir Mei 2026, nilai penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal telah mencapai Rp 68,18 triliun.



error: Content is protected !!