Purbaya Optimistis Tekanan Rupiah terhadap Dolar AS Mereda

BeritaLokal, Jakarta – Tekanan Rupiah terhadap Dolar AS Berpotensi Redam dalam Masa Depan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan berangsur mereda dalam beberapa bulan mendatang. Menurutnya, perkembangan hubungan antara AS, Iran, dan Israel yang semakin stabil menunjukkan arah positif untuk memperkuat stabilitas global dan perekonomian Indonesia.

Purbaya mengatakan bahwa peningkatan keamanan regional serta dinamika politik internasional dapat menjadi faktor kunci dalam memperkuat daya tahan rupiah terhadap pergerakan pasar keuangan. Dia juga menekankan pentingnya kerja sama pemerintah dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas sektor keuangan, terutama menghindari kerugian bagi investor asing akibat fluktuasi harga aset.

Koordinasi Kementerian dan Bank Indonesia
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk memastikan kondisi pasar obligasi domestik tetap kondusif. “Kami selalu melakukan koordinasi intensif dengan bank sentral agar investor asing tidak mengalami capital loss akibat gejolak pasar,” kata Purbaya dalam konferensi pers, Minggu (31/5/2026).

Selain itu, ia menyebutkan bahwa kebijakan moneter The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi juga menjadi penyebab tekanan terhadap rupiah. Pergerakan harga minyak dunia dan sentimen geopolitik kawasan Timur Tengah masih membayangi pergerakan harganya, meski ada harapan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS, Iran, dan Israel dapat memperkuat kepercayaan pasar.

Rupiah Melemah di Pasar Uang
Pada penutupan perdagangan Jumat (2/2), rupiah ditutup melemah 35 poin atau 0,20 persen ke level Rp17.881 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.846 per dolar AS. Pengamat pasar Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak global yang masih tidak stabil.

Kondisi ini disebutkan terkait dengan sentimen bertentangan terhadap negosiasi gencatan senjata di kawasan Timur Tengah. Meski ada harapan bahwa kesepakatan antara AS, Iran, dan Israel dapat memperkuat stabilitas pasar, volume lalu lintas kapal di jalur strategis seperti Selat Hormuz masih terbatas. Hal ini mengakibatkan premi risiko geopolitik tetap berdampak pada harga minyak dunia.

Pengaruh Kebijakan The Fed
Kebijakan moneter The Fed, yang mempertahankan suku bunga tinggi, juga menjadi faktor utama dalam mengalirkan modal asing ke pasar AS. Dalam konferensi pers, Purbaya menyatakan bahwa investor global mulai memindahkan aset mereka ke instrumen berisiko rendah di AS, seperti obligasi.

Berdasarkan data JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate), rupiah terus melemah pada penutupan perdagangan Jumat (30/5/2026) dengan posisi Rp17.883 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya di Rp17.789 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih memantau sentimen global terkait kebijakan moneter AS dan dinamika geopolitik.

Harapan untuk Stabilitas Rupiah
Purbaya berharap stabilitas ekonomi global dapat menjadi pendorong kembali kepercayaan investor terhadap rupiah. Ia menegaskan bahwa dengan kondisi keamanan dan situasi politik yang diperkirakan membaik, tekanan pada rupiah juga akan berakhir. “Saya percaya kita bisa mengembalikan kepercayaan pasar seiring membaiknya prospek ekonomi global dan terjaganya sistem keuangan nasional,” katanya.

Dengan kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan kebijakan moneter AS, kondisi rupiah masih menghadapi tantangan. Namun, Purbaya berkeyakinan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia dapat menjadi fondasi untuk menekan tekanan terhadap nilai tukar rupiah di masa depan.

Artikel Terkait

0