BeritaLokal, Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan investor asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik setelah menaikkan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,50 persen. Penguatan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan pergerakan di bawah Rp18.000 per dolar, menunjukkan dinamika pasar yang penuh kejutan.
Pertumbuhan aliran dana asing menjadi sinyal positif dalam tenggat waktu kenaikan suku bunga, yang dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebutkan bahwa kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen menunjukkan langkah proaktif BI dalam mengelola risiko pasar.
Selain itu, meningkatnya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) terus menjadi faktor yang memperkuat minat investor asing. Dalam lelang SRBI pada 10 Juni 2026, aliran dana asing kembali menunjukkan pergerakan positif, seiring dengan penguatan rupiah di tengah tekanan global.
Pihak BI juga memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar Non Deliverable Forward (NDF) offshore dan transaksi spot serta Domestic NDF di pasar domestik. Namun, rupiah masih mengalami pergerakan berulang terhadap dolar AS, mencatatkan penurunan sebesar 11 poin atau 0,07 persen pada Selasa (5/5/2026) hingga Rp17.405 per dolar.
Dalam kondisi ketidakpastian global akibat tekanan geopolitik dan dinamika kebijakan moneter bank sentral dunia, BI memastikan terus memantau perkembangan pasar untuk menjaga keseimbangan supply dan demand. Ramdan menegaskan bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama, sambil tetap memberikan daya tarik instrumen keuangan domestik bagi investor asing.
Selain itu, BI juga terus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar, seperti transaksi spot dan NDF. Dalam rangka menstabilkan rupiah, BI menggandengkan berbagai strategi yang diakui mampu menjaga keseimbangan ekonomi domestik sekaligus mengurangi risiko pergerakan nilai tukar.
Penguatan aliran dana asing dan penguatan kebijakan moneter menunjukkan bahwa BI tetap berkomitmen untuk menjadi pelopor stabilitas ekonomi Indonesia, meski tengah menghadapi tantangan dinamika global yang tidak terduga.