BeritaLokal, Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan ini dinilai berpotensi fluktuatif namun stabil. Dengan latar belakang ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mulai reda, serta kesepakatan awal antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik, rupiah diprediksi terus bergerak dalam kisaran Rp 17.650-Rp 17.700 per dolar AS.
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menyoroti bahwa penguatan rupiah di bawah dampak kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 5,50% pada 9 Juni 2026, berpotensi mendorong kembali minat investor. Namun, pergerakan rupiah masih tergantung pada dinamika pasar internasional, terutama harga minyak mentah dunia yang menurun hingga US$ 80 per barel. Kenaikan harga minyak ini dianggap sebagai faktor positif bagi perekonomian nasional, karena dapat mengurangi tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta subsidi energi.
Pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026, rupiah ditutup menguat tajam 151 poin ke level Rp 17.708 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.860. Harga minyak turun hingga US$ 80 per barel menjadi sentimen positif, memungkinkan masyarakat mengurangi kepemilikan dolar AS dan beralih ke rupiah. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyarankan untuk menjual atau menukar dolar asing ke rupiah agar stabilitas nilai tukar terjaga.
Sementara itu, pasar kini fokus pada pertemuan Bank Indonesia yang akan dilaksanakan pekan ini. Kebijakan penguatan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% telah diambil untuk menjaga stabilitas rupiah dalam konteks ketidakpastian global dan menahan arus keluar modal asing (capital outflow). “Langkah ini dioptimalkan untuk melindungi nilai tukar dari gejolak global,” terang Ibrahim.
Dari sisi dalam negeri, stabilitas kondisi ekonomi juga dinilai meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap rupiah. Dengan demikian, investor dan pelaku pasar semakin memperhatikan pergerakan rupiah yang diharapkan stabil sesuai harapan pemerintah. Kebijakan Bank Indonesia tetap menjadi fokus utama, meski belum ada keputusan resmi tentang penyesuaian suku bunga.
Pasar menantikan pertemuan Bank Indonesia pada 9 Juni 2026 untuk memastikan stabilitas nilai tukar. Dengan demikian, rupiah tetap berada di tengah pergeseran harga minyak dan dinamika global yang terus berkembang.