Prediksi Rupiah Pekan Depan: Kenaikan Tajam saat MSCI Membayangi

BeritaLokal, Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan depan diprediksi masih berfluktuasi akibat sentimen global yang mendominasi. Pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026, rupiah ditutup melemah tipis 7 poin menjadi Rp 17.801 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.794 per dolar AS, meski sempat terbentuk hingga 55 poin di level Rp 17.801. Analis prediksi Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin, 22 Juni 2026, terutama di tengah pergeseran sentimen geopolitik di Timur Tengah.

Selain itu, laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan penilaian Indonesia pada kriteria arus informasi dalam laporan Global Market Accessibility Review 2026. MSCI mengkritik transparansi data kepemilikan saham dan aktivitas pasar di Indonesia, yang dinilai merusak proses pembentukan harga wajar. Kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia terus ditempuh untuk memperkuat neraca modal dan finansial, sementara kinerja pasar valuta asing masih terbatas.

Bank Indonesia (BI) mengklaim kepemilikan nonresiden (asing) terhadap instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berkontribusi pada penguatan nilai tukar rupiah. Pada 15 Juni 2026, SRBI memiliki kapital sebesar Rp 1.021,1 triliun dengan kepemilikan nonresiden mencapai Rp 238,1 triliun atau 23,3 persen dari total outstanding. Kebijakan suku bunga acuan BI Rate naik 25 bps menjadi 5,75% mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Sementara itu, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh kondisi geopolitik yang terkait dengan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan tersebut meningkatkan harapan pasokan minyak global kembali normal dan mengurangi premi risiko karena ekspor minyak Iran. Namun, isu serangan udara Israel pada Kamis, 18 Juni 2026, memicu keraguan terhadap keberlanjutan kesepakatan tersebut.

Pergerakan rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp 17.500-Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Senin, 22 Juni 2026. Kebijakan stabilisasi BI terus dijaga untuk memastikan ketahanan eksternal Indonesia dalam menghadapi gejolak global.

error: Content is protected !!