BeritaLokal, Jakarta – Kondisi Usaha Tempe dan Tahu Kian Menekan, Gakoptindo Minta Subsidi Kedelai Secepatnya
Pemerintah dituntut segera mempercepat pelaksanaan program subsidi kedelai bagi perajin tempe dan tahu. Ini terjadi karena lonjakan biaya produksi yang semakin menekan keberlangsungan usaha para pengrajin, kata Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Wibowo Nurcahyo.
Dalam pertemuan dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Gakoptindo menyebutkan kondisi usaha tempe dan tahu kian mengalami tekanan akibat kenaikan harga komoditas seperti BBM Pertamax, plastik kemasan polyethylene (PE), serta ongkos angkutan truk. Harga BBM naik 31,58% dari Rp 12.350 hingga Rp 16.250 per liter, sementara harga plastik kemasan meningkat 57,14%, dan biaya transportasi truk bertambah 20%. Dampaknya terasa langsung pada usaha skala kecil, di mana biaya operasional meningkat sebesar 24,4% dari Rp 17.985.000 hingga Rp 22.375.000 dalam semester pertama 2026.
Gakoptindo menegaskan bahwa kenaikan biaya ini membuat margin keuntungan perajin semakin menipis, sehingga mereka memperkecil ukuran produk atau mengurangi kapasitas produksi. Risiko penghentian usaha meningkat, terutama bagi pelaku usaha skala kecil. Untuk meringankan tekanan, Gakoptindo mendesak pemerintah segera menindaklanjuti pembahasan lintas kementerian yang telah dilakukan dan memastikan subsidi diterapkan secara transparan.
Program subsidi kedelai, yang disiapkan oleh Pemerintah dengan nilai Rp 2.000 per kilogram untuk 250.000 ton, akan ditransfer melalui Perum Bulog. Menteri Zulkifli menyatakan kebijakan ini bertujuan menjaga keterjangkauan harga pangan dan mengurangi dampak kenaikan harga kedelai impor akibat penguatan dolar AS. Meski mekanisme pelaksanaannya masih dalam proses, Gakoptindo memastikan data calon penerima subsidi telah diverifikasi melalui jaringan koperasi produsen di berbagai daerah.
Organisasi tersebut menekankan bahwa program ini tidak hanya membantu perajin tetapi juga mendukung stabilitas harga pangan nasional. Gakoptindo memohon kebijakan pemerintah segera diterapkan agar dampak finansial terhadap usaha mikro bisa dirasakan secara langsung.
Selain kenaikan harga BBM dan plastik kemasan, pengrajin juga menghadapi kenaikan ongkos transportasi truk yang naik 20% dari Rp 1.500.000 hingga Rp 1.800.000 per perjalanan. Dampaknya terlihat dalam biaya operasional untuk kebutuhan 100 liter tempe, yang meningkat dari Rp 390.000 menjadi Rp 1.625.000. Biaya plastik kemasan 50 kilogram juga naik dari Rp 1.000.000 hingga Rp 2.750.000, sementara ongkos transportasi untuk 10 kali perjalanan meningkat dari Rp 3.000.000 menjadi Rp 18.000.000.
Kenaikan biaya ini memicu margin keuntungan perajin menipis, sehingga mereka terpaksa mengurangi ukuran produk atau mengurangi kapasitas produksi. Dampaknya berpotensi menurunkan daya saing lokal dan meningkatkan risiko penghentian usaha, terutama bagi pelaku usaha skala kecil.
Gakoptindo meminta pemerintah segera menerapkan program subsidi kedelai agar usaha tempe dan tahu dapat bertahan. Program ini diharapkan menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas harga pangan nasional sambil mendukung keberlangsungan usaha mikro.