BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah memperkuat tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG) sebagai kunci ketahanan industri asuransi di tengah tantangan risiko yang semakin kompleks. Kebijakan ini terbukti mendorong PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) untuk memperkuat manajemen risiko, transparansi, dan budaya kepatuhan, sekaligus menegaskan bahwa tata kelola menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
Selain itu, penguatan GCG juga diperlukan untuk menghadapi tekanan regulasi yang meningkat, seperti sertifikasi ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah terbukti mampu meminimalisir risiko korupsi. Tugu Insurance, perusahaan asuransi terbesar di Indonesia, berhasil mempertahankan sertifikasi ini selama empat tahun berturut-turut sejak 2021, dengan audit eksternal yang ketat pada proses pengadaan barang/jasa dan klaim. Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko Tugu Insurance, Edi Yoga Prasetyo, mengatakan bahwa keberhasilan ini bukan hanya untuk memenuhi kewajiban regulasi tetapi juga menjadi landasan dalam memperkuat daya saing dan menjaga kepercayaan stakeholder.
Dalam tahun 2025, Tugu Insurance mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar Rp711,06 miliar, naik 77% dibandingkan dengan Rp401,57 miliar pada tahun sebelumnya. Pendapatan jasa asuransi juga meningkat 22,12%, mencapai Rp9,11 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh optimasi portofolio bisnis andalan seperti fire & property, offshore, dan aviation. Penguatan tata kelola dianggap sebagai kunci dalam menghadapi risiko global yang semakin kompleks, sekaligus mendukung keberlanjutan industri asuransi.
Pertumbuhan ini tidak terlepas dari strategi penguatan GCG, yang mencakup peningkatan transparansi dan akuntabilitas. Tugu Insurance menegaskan akan memperkuat prinsip seperti independensi, kewajaran, dan responsibilitas dalam menjaga ketahanan bisnis. Sertifikasi SMAP terus dijaga sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun sistem kepatuhan yang transparan.
Selain itu, Tugu Insurance juga menggandeng stakeholder melalui program pelatihan dan audit internal, sehingga budaya kepatuhan menjadi bagian integral dalam seluruh proses bisnis. Dengan tata kelola yang terstruktur, perusahaan diharapkan dapat mempertahankan kepercayaan pasar dan mendukung pengembangan industri asuransi Indonesia yang berkelanjutan.
Tiga tahun lalu, Tugu Insurance menghadapi tantangan risiko yang menekankan pentingnya manajemen risiko. Namun, dengan penguatan GCG sebagai fondasi bisnis, perusahaan berhasil memperkuat kepercayaan pemangku kepentingan. Kebijakan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab internal tetapi juga mendukung ekspansi pasar global, sekaligus menjaga keseimbangan antara keuntungan dan tanggung jawab sosial perusahaan.
Artikel Terkait
Premi Kendaraan Listrik Bisa Naik 20 Persen
28 Juli 2026
DPR Dukungan Komdi: Bangun Infrastruktur Internet 3T
27 Juli 2026
Allianz Singapura Raih Akuisisi HSBC 37 Triliun
24 Juli 2026
Bank Sentral Asia Pasifik Fokus Tata Kelola AI untuk Keuangan
24 Juli 2026
IFG Pangkas 12 Entitas, Fokus Menangani Misinvestment Risiko
23 Juli 2026
Remaja AS Putuskan Gugatan Meta, Ini Alasannya
23 Juli 2026
OJK Resmi Bubarkan Dana Pensiun CIMB Niaga
22 Juli 2026
Pusat Finansial Internasional Tahun Ini, Regulasi 6 Bulan
22 Juli 2026
Memuat komentar...