BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah Malaysia kini mengambil langkah strategis untuk menyeimbangkan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah krisis kebocoran dana dan penyelundupan yang terjadi akibat perbedaan harga antara solar bersubsidi dan non-subsidi. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada Juli 2026, dengan harga diesel diturunkan menjadi 2,10 Ringgit Malaysia per liter atau sekitar US$ 0,51 per liter untuk warga negara. Perubahan ini bertujuan mengatasi kekacauan moneter yang terjadi akibat ketidakseimbangan harga antara dua jenis BBM tersebut.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat mekanisme harga pasar (floating price) untuk solar di Semenanjung Malaysia. Sejak Juni 2024, harga diesel di wilayah ini telah diterapkan secara terpisah dari Sabah dan Sarawak, yang masih menerima subsidi karena kebutuhan penduduk daerah tersebut. Namun, ketergantungan pada harga pasar yang tinggi di Semenanjung Malaysia-sekitar 4,37 Ringgit per liter-telah memicu lonjakan harga yang mencapai rekor 6,72 Ringgit per liter pada April 2026.
Kebijakan ini terinspirasi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik dan konflik di Iran. Pemerintah mengatakan bahwa selisih harga antara Sabah, Sarawak, dan Semenanjung Malaysia telah menciptakan peluang penyelundupan solar bersubsidi ke luar negeri. Namun, pemerintah belum menjelaskan sumber pendanaan tambahan untuk menopang subsidi yang terus membanjir. Menteri Keuangan II Malaysia, Amir Hamzah Azizan, dijadwalkan akan mengumumkan rincian lebih lanjut dalam waktu dekat.
Di sisi lain, pemerintah juga mencari solusi untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dengan memperluas akses cadangan gas dunia. Petronas, perusahaan energi nasional Malaysia, telah menandatangani beberapa kesepakatan baru dengan Turkmennebit dan Hazarnebit di Turkmenistan. Perjanjian ini bertujuan untuk memperkuat penggunaan sumber daya minyak dan gas di kawasan Laut Kaspia, yang diyakini menjadi cadangan terbesar dunia. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengatakan kerja sama tersebut dapat meningkatkan ekspor energi ke China, Jepang, dan Korea Selatan.
Selain itu, ketegangan dengan Rusia telah memberikan jaminan pasokan minyak, gas, dan solar jangka panjang untuk Malaysia selama 20 tahun. Kebijakan penurunan harga diesel ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik sekaligus mencegah kebocoran dana subsidi yang menjadi tantangan utama dalam era pasokan energi global yang terganggu.
Dengan langkah ini, Malaysia berupaya memastikan bahwa perbedaan harga BBM tidak mengakibatkan kerugian bagi pemerintah, sementara juga menekan tekanan pada sistem keuangan negara. Namun, konsistensi dalam pengelolaan dana subsidi dan peningkatan kapasitas ekspor energi menjadi kunci kesuksesan kebijakan ini.