Lalu Lintas Selat Hormuz Meningkat, Harga Minyak Langsung Turun

[BeritaLokal], Jakarta – Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz yang mulai menunjukkan sinyal pemulihan signifikan telah memicu pergerakan harga minyak dunia ke arah penurunan, meski di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Pernyataan Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, yang menyampaikan bahwa arus ekspor minyak melalui jalur pelayaran strategis ini mulai bertambah, telah menjadi pendorong utama optimisme pasar bahwa gangguan pasokan global berpotensi mulai mereda.

Pada perdagangan Selasa (Rabu, 10 Juni 2026), kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup turun 3,4% ke level US$ 88,20 per barel, sementara minyak mentah Brent, acuan internasional, mengalami penurunan 2,97% menjadi US$ 91,45 per barel. Penurunan ini terjadi meskipun Presiden AS Donald Trump menuduh Iran telah menembak jatuh helikopter Apache milik AS yang sedang menjalankan patroli di Selat Hormuz. Trump menyatakan kedua pilot berhasil selamat, namun menekankan bahwa AS akan memberikan respons atas serangan tersebut.

Namun, sinyal pemulihan pasokan minyak tidak hanya berasal dari pernyataan pemerintah AS. Analis JPMorgan dalam laporan riset tertanggal 4 Juni menyebutkan bahwa volume minyak yang melintasi Selat Hormuz mungkin jauh lebih tinggi dari yang terlihat secara publik. Menurut laporan tersebut, Angkatan Laut AS secara diam-diam telah berkoordinasi dengan sejumlah kapal tanker yang berupaya keluar dari kawasan Teluk Persia. Diperkirakan sekitar 2 juta barel minyak per hari berhasil keluar melalui kapal tanker yang mematikan transponder atau sistem pelacakan mereka, menunjukkan bahwa pasokan global belum sepenuhnya terhenti, meski blokade laut dan penurunan tajam lalu lintas komersial tetap berlangsung.

Di sisi lain, Trump berupaya memperkuat harapan bahwa kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu dekat. Pada Senin (9 Juni), Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut “hanya berjarak dua atau tiga hari lagi”, meski hingga kini tidak ada dokumen resmi yang terpublikasikan. Pemerintah AS tetap menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlangsung, meski situasi keamanan di kawasan masih rentan.

Ketegangan geopolitik yang memuncak sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, telah menyebabkan harga minyak melonjak sekitar 30%. Iran sebagai respons menyerang kapal tanker dan memasang ranjau di jalur pelayaran, mengakibatkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern. Namun, meski tekanan AS melalui blokade laut terus ditingkatkan, analis industri energi menilai harga minyak belum mencapai level yang diperkirakan, sebab cadangan minyak global masih cukup besar untuk menopang pasar.

Namun, risiko kenaikan harga minyak tetap terbuka, terutama seiring berkurangnya cadangan minyak dunia dan meningkatnya permintaan selama musim panas di belahan bumi utara. Dengan situasi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil, pasar tetap berhati-hati terhadap kemungkinan kenaikan harga yang mungkin muncul di paruh kedua tahun ini.

error: Content is protected !!