beritalokal.my.id, Jakarta – Laju saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) lesu pada perdagangan saham Rabu, (3/6/2026). Koreksi harga saham BBCA terjadi di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Mengutip data RTI, harga saham BBCA ditutup turun 5,15% menjadi Rp 5.525 per saham. Harga saham BBCA dibuka turun 50 poin menjadi Rp 5.775 per saham dari sebelumnya Rp 5.825 per saham. Harga saham BBCA berada di level tertinggi Rp 5.825 dan level terendah Rp 5.525 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 87.311 kali dengan volume perdagangan saham 4.072.780 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 2,3 triliun. Kapitalisasi pasar saham Rp 681, 09 triliun.
Sementara itu, IHSG hari ini merosot 4,11% menjadi 5.941,06. Indeks saham LQ45 merosot 4,89% menjadi 588,99. Seluruh indeks saham acuan melemah.
IHSG belum mampu bangkit seiring 692 saham yang tertekan. 69 saham menguat dan 54 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 2.761.582 kali dengan volume perdagangan saham 39,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 25,1 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.970.
Seluruh sektor saham melemah. Sektor saham basic merosot 9,05%, dan catat koreksi terbesar. Selain itu, sektor saham energi terpangkas 5,61%, sektor saham industri tergelincir 3,54%, sektor saham consumer nonsiklikal melemah 3,99%.
Lalu sektor saham siklikal terperosok 3,23%, sektor saham kesehatan merosot 4,36%, sektor saham keuangan turun 1,76%. Selain itu, sektor saham properti melemah 3,48%, sektor saham teknologi tergelincir 2,93%, sektor saham infrastruktur melemah 5,05%, dan sektor saham transportasi turun 4,15%.
BI Rate Naik, BCA Yakin Kredit Tetap Tumbuh
PerbesarPetugas melakukan pengecekan rutin RCW Tank di Wisma BCA Foresta, BSD pada Kamis (16/6/2022). Wisma BCA Foresta merupakan gedung yang beroperasi sejak Oktober 2020 dengan peruntukan sebagai kantor pusat BCA dengan Total luas bangunan lebih dari 45.000 m2. (beritalokal.my.id/HO/BCA)
Sebelumnya, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,25%. Perseroan menilai kebijakan tersebut sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan perseroan terus mencermati perkembangan kebijakan moneter dan berbagai indikator ekonomi dalam menentukan strategi bisnis ke depan.
“Kami senantiasa mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan ke level 5,25%. Kami melihat keputusan ini merupakan langkah strategis BI dalam merespons dinamika ekonomi global serta pergerakan nilai tukar rupiah,” kata Hera kepada Media, Jumat (22/5/2026).
Menurut Hera, kenaikan suku bunga acuan merupakan respons yang tepat dari otoritas moneter dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang masih berlanjut serta pergerakan kurs rupiah yang berfluktuasi.
Hera menjelaskan, dalam menilai kebijakan suku bunga, BCA konsisten mencermati perkembangan suku bunga acuan ke depan, parameter makroekonomi lainnya, potensi risiko, kondisi likuiditas sektor perbankan dan pasar yang dipengaruhi faktor permintaan dan penawaran.
Seiring dengan itu, BCA senantiasa mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan ekspansi kredit yang sehat.
“Secara bersamaan, BCA senantiasa melakukan review berkala dan memperhatikan tingkat suku bunga kredit pada level yang dapat diterima pasar dan memperhatikan daya beli masyarakat,” ujarnya.
Kredit Tumbuh Sehat Capai Rp 965 Triliun
PerbesarGedung BCA (Dok: BCA)
Di tengah perubahan kebijakan suku bunga, BCA memastikan kinerja penyaluran kredit masih menunjukkan tren positif. Hingga April 2026, total kredit BCA secara bank only tercatat mencapai Rp 965 triliun.
“Hingga saat ini, tren pertumbuhan kredit BCA masih terjaga dengan baik. Per April 2026, kredit BCA (bank only) tumbuh sehat dan mencapai Rp965 triliun. Kami optimistis mencapai target pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026,” ujarnya.
Ke depan, BCA akan terus mendorong penyaluran kredit yang berkualitas dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko yang disiplin.
