BeritaLokal, Jakarta – Harga minyak mentah melonjak hampir 10% pada perdagangan Senin, menciptakan kenaikan terbesar sejak Mei 2020. Peristiwa ini menggeliatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global di tengah konflik yang memanas di Selat Hormuz.
Selain itu, Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan blokade terhadap Iran, menimbulkan perdebatan serius tentang pengaturan lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut. Kebijakan ini dipicu oleh serangan Iran pada kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, sementara AS mempertahankan kebebasan navigasi secara terbuka bagi kapal dari negara lain. Trump menegaskan bahwa blokade kembali dilakukan untuk “menghentikan kapal-kapal Iran atau pelanggan mereka” dan meminta kompensasi 20% nilai kargo yang melintas jalur pelayaran strategis.
Dalam wawancara dengan CNBC, Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk aktivitas internasional. Namun, klaim Iran menghentikan lalu lintas pelayaran di sisi selatan Oman disebut tidak benar oleh militer AS, yang menyatakan kebebasan navigasi tetap berjalan meskipun ada agresi. Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat sembilan kapal berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, sementara JMIC mengingatkan kondisi keamanan di kawasan masih tinggi dan meminta kapal meningkatkan kewaspadaan.
Konflik ini juga mendorong perbedaan penafsiran antara AS dan Iran terkait mekanisme pembukaan Selat Hormuz, yang ditandatangani pada 17 Juni lalu. Sebelumnya, sekitar 20% pasokan minyak dunia mengalir melalui jalur ini, tapi arus pelayaran menurun setelah Iran menyerang kapal pada awal Maret. Kembalinya blokade memicu kembali kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Sementara itu, para nelayan di Pesisir Utara Iran mengeluhkan tekanan dari serangan udara yang dilakukan AS, sementara pihak Iran menyatakan pengungsian kapal dan menutup jalur pelayaran hingga batas waktu yang belum ditentukan. Kondisi ini memperparah ketegangan di kawasan terkait, meski militer AS mengklaim kebebasan navigasi tetap berjalan.
Dampak dari peristiwa ini tidak hanya pada harga minyak, tapi juga pada kebijakan pemerintah dan pertahanan nasional. Trump meminta AS tetap menjaga keamanan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, sementara Iran mengklaim kewajiban untuk menutup jalur agar tidak terganggu. Perdebatan ini mencerminkan ketegangan antar-negara yang makin meningkat, memperlihatkan bahwa konflik di Selat Hormuz bisa berdampak luas pada pasar minyak global.
Kenaikan harga minyak mentah menjadi isu kritis bagi pemerintah dan masyarakat, terutama dalam menghadapi inflasi yang meningkat. Kebijakan AS yang tidak langsung memperbaiki kondisi pasokan energi menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi. Selain itu, keterlibatan militer dan perbedaan penafsiran antara pihak-pihak terkait menunjukkan bahwa konflik di Selat Hormuz belum selesai dan masih berdampak pada dunia.
Artikel Terkait
Singapura Tegkatkan Kebijakan Moneter, Tangani Minyak Pedas
27 Juli 2026
Harga Minyak Mundur 5% Setelah Iran Hentikan Serangan
27 Juli 2026
Harga Emas Dekat $4.000, Konflik Timur Tengah Turun Tarik
27 Juli 2026
Harga Minyak Turun Meski Ketegangan Timur Tengah Meningkat
25 Juli 2026
Harga Minyak Dunia Meleleh $100, Prabowo Peringatkan Belanja
24 Juli 2026
Harga Minyak Naik, Rupiah Lesu Menanggapi Gejolak Pasar
24 Juli 2026
Harga Perak Hari Ini Cai Tergelincir Rp 1.500
24 Juli 2026
Harga Minyak Melonjak 7% Pasca Serangan Tanker Saudi
24 Juli 2026
Memuat komentar...