BeritaLokal, Jakarta – Harga emas dunia turun sekitar 3% pada perdagangan Senin, menciptakan gelombang perubahan yang memicu analisis khusus terkait potensi naiknya harga emas hingga US$ 3.500. Pergerakan ini disebabkan oleh ketegangan Timur Tengah, lonjakan harga minyak, dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS, menurut analisis pasar forex yang terus berdampak pada keputusan investor.
Selain itu, kontrak emas berjangka AS ditutup melemah 2,6% ke level US$ 4.005,70 per troy ounce, mencerminkan tekanan penuh di pasar. Analis Forex.com, Fawad Razaqzada, menyebutkan bahwa harga minyak melonjak sekitar 5% karena konflik di Timur Tengah dan potensi pengetatan kebijakan Federal Reserve. “Kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi, sehingga bank sentral AS mungkin mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama,” kata Razaqzada.
Perubahan ini menunjukkan bahwa harga emas masih terpaku di level US$ 3.991,56 per troy ounce, yang mencerminkan tekanan jual kuat di pasar. Meski penurunan sebesar 3,1% dalam dua hari perdagangan berturut-turut, analis memperkirakan harga emas bisa turun lebih dalam jika tekanan jual semakin meningkat. Razaqzada menyebutkan bahwa harga emas dapat menembus level US$ 3.800 bahkan US$ 3.500 dalam waktu tertentu, tergantung pada kinerja harga minyak dan kebijakan Fed.
Kabar Trump kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran menyebabkan sentimen negatif yang menggerakkan pasar. Pernyataan Trump tentang kompensasi 20% dari seluruh kargo melintasi Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak, yang berpotensi menekan nilai emas. Dengan kenaikan harga minyak mencapai level sekitar 5%, tekanan inflasi menjadi lebih tinggi, sehingga membuat bank sentral AS mungkin mempertahankan suku bunga pada level tinggi hingga masa depan.
Sementara itu, fokus pasar terus berpindah ke pidato Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang dijadwalkan menyampaikan kesaksian pertama mengenai kebijakan moneter di hadapan Kongres AS. Pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 71% bahwa Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang, berdasarkan perhitungan dari FedWatch Tool milik CME Group. Kepastian ini menjadi acuan utama investor dalam menghantarkan keputusan investasi mereka.
Selain itu, pemerintah AS juga dijadwalkan merilis data ekonomi penting sepanjang pekan ini, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI), Indeks Harga Produsen (PPI), laporan penjualan ritel Juni, dan klaim tunjangan pengangguran. Data-data tersebut diperkirakan akan memengaruhi prediksi kebijakan moneter Fed dan pergerakan harga emas dunia. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah AS juga berdampak langsung pada ekonomi global, termasuk permintaan untuk aset seperti emas yang menawarkan imbal hasil rendah.
Dengan kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi yang terus meningkat, investor mulai mempertimbangkan kebijakan moneter Fed sebagai faktor utama dalam pergerakan harga emas. Perubahan ini juga menciptakan dinamika pasar yang kompleks, di mana penurunan harga emas sekaligus bisa menjadi pembuka peluang untuk naik kembali jika kondisi ekonomi menunjukkan tanda-tanda positif. Dalam jangka panjang, pergerakan harga emas tergantung pada kombinasi dari faktor ekonomi, politik, dan kebijakan moneter global yang berdampak langsung pada permintaan dan penawaran aset.
Artikel Terkait
Harga Emas 24K Naik, Pegadaian Tetap Stabil Senin 27 Juli
27 Juli 2026
Harga Emas Hari Ini 27 Juli 2026 Raja Emas Laku Emas Buka
27 Juli 2026
Harga Emas Pegadaian 27 Juli 2026 Harga dan Perbandingan
27 Juli 2026
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Rp63k & Telur Rp32k per Kg
27 Juli 2026
Singapura Tegkatkan Kebijakan Moneter, Tangani Minyak Pedas
27 Juli 2026
Super El Niño Memaksa Indonesia Rentan Inflasi Global
27 Juli 2026Pengunduran Bank Indonesia: Perry Warjiyo Resmi Ganti Gubernur
27 Juli 2026
Harga Emas Dekat $4.000, Konflik Timur Tengah Turun Tarik
27 Juli 2026
Memuat komentar...