BeritaLokal, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya menegaskan bahwa, mesai kebijakan harga gas Blok Masela masih dalam tahap negosiasi, pemerintah menargetkan harga gas untuk industri pupuk berada di kisaran US$ 6, 7 per MMBtu, sekaligus menegaskan resolusi menjaga kompetitivitas pasar domestik.
Harga dan Infrastruktur Gas
Di sebuah kunjungan langsung ke situs Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis (16 / 7 / 2026), Bahlil menyatakan bahwa perjanjian harga masih dalam proses final karena adanya dua faktor utama: sistem penyaluran melalui jaringan pipa bawah laut dan fasilitas liquefied natural gas (LNG). Pipa yang akan dibangun sepanjang sekitar 180 kilometer menjadi komponen krusial yang menambah biaya distribusi, sementara LNG dimaksudkan untuk menyeimbangkan pasokan di wilayah rawan fluktuasi. Rinciannya menunjukkan bahwa harga yang akan ditegakkan pada skema distribusi LNG akan dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah Indonesia (ICP).
Harga bagi Industri Pupuk
Melihat potensi keluaran gas dari Blok Masela, pemerintah mengunci kisaran harga US$ 6, 7 per MMBtu khusus untuk sektor pupuk. Menurut Bahlil, harga tersebut dipilih karena dapat mempertahankan daya saing produk pupuk nasional di pasar internasional sekaligus memacu investasi hilirisasi. Ia menekankan bahwa dengan harga kompetitif, perusahaan pupuk dapat merancang rantai pasok gas secara efisien tanpa menambah beban biaya produksi yang signifikan, sehingga tetap mampu bersaing dengan produsen pupuk yang menggunakan sumber energi lain.
Dalam pernyataannya, Menteri menambah bahwa penjualan LNG, meskipun akan menggunakan formulasi ICP, tetap memprioritaskan proses bahan baku di dalam negeri. Tidak hanya sekadar mengekspor gas cair, pemerintah ingin memastikan multiplier effect dengan memanfaatkan nilai tambah di setiap tahap produksi, mulai dari ekstraksi hingga pengolahan makro.
Tantangan Pipa Bawah Laut
Sisi teknis penyaluran gas menunjukkan tantangan besar: panjang pipa bawah laut (180Â km) membutuhkan investasi besar dan pendekatan logistik yang cermat. Selain itu, LNG memerlukan fasilitas penyimpanan yang bisa ditarik dari laut, memungkinkan blending dengan pasokan gas alami sehingga kehandalan pasokan tetap terjaga, terutama saat permintaan industri peak. Bahlil menekankan pentingnya memperkuat infrastruktur tersebut agar gas Blok Masela dapat disalurkan secara stabil baik melalui pipa maupun LNG.
Dampak Ekonomi dan Investasi
Penerapan skema harga gas US$ 6, 7 per MMBtu tidak hanya berdampak pada industri pupuk, tetapi juga membuka peluang investasi bagi sektor energi terbarukan dan pengembangan tambang gas dalam negeri. Dengan biaya energi terjangkau, banyak perusahaan pertambangan kecil & menengah berpotensi memanfaatkan gas sebagai bahan baku produksi, menciptakan lapangan kerja tambahan di kawasan kepulauan. Melalui kebijakan ini, pemerintah berupaya memperlancar ekosistem hilirisasi, meminimalkan ketergantungan pada impor gas, serta memaksimalkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat daerah.
Artikel Terkait
Super El Niño Memaksa Indonesia Rentan Inflasi Global
27 Juli 2026
Harga Emas Meningkat, Pasar Siap Tahu Keputusan The Fed
25 Juli 2026
North Hub Dimulai Bangun, Ciptakan 8.000 Lapangan Kerja
24 Juli 2026
Harga Pertamax Bisa Turun, Bahlil Tambah Pantau Pasar
21 Juli 2026
Harga Hidrogen Akan Kompetitif, Bahlil Buktikan
21 Juli 2026
Bahlil dan Pindad Luncurkan Tabung CNG 3 kg Baru
21 Juli 2026
Minyak Rusia Berlimpung Indonesia, Bahlil Jelaskan Harga
21 Juli 2026
Memuat komentar...