Bahlil dan Pindad Luncurkan Tabung CNG 3 kg Baru

BeritaLokal, Jakarta – Bahlil Gandeng Pindad Garap Tabung CNG 3 Kg sebagai inti strategi pemerintah menyiapkan energi alternatif bagi konsumen industri dan komersial. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan bahwa negara sedang mengembangkan CNG dalam kemasan 3 kg, yang selanjutnya dapat menggantikan LPG bersubsidi 3 kg di pasar domestik.
Di awal pernyataan, Bahlil menyebutkan bahwa uji coba prototipe masih berlangsung di Tiongkok, khususnya di fasilitas kompresor high‑pressure, dan anggapan pemasaran kini masih dalam tahap eksperimen teknis. Rencana peluncuran komersial diharapkan pada Agustus 2026, saat Bahlil bernaung pada Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) di JICC Senayan, Jakarta, dengan tujuan mempersiapkan infrastruktur penyaluran CNG berkelanjutan di Indonesia.

Kerja Sama Pindad & ESDM

Para pengelola proyek diharapkan berkolaborasi dengan Pertanian BUMN PT Pindad untuk mengidentifikasi teknologi produksi dan pengemasan berstandar nasional. Bahlil menegaskan, “Jika hasil uji coba mencukupi, penerapan Pindad sebagai produsen nasional akan menjadi langkah selanjutnya. Kami akan menunggu pengujian di lapangan untuk memastikan keandalan dan mutu produk.” Kerja sama ini mencakup proses standar produksi, pengujian standout, dan inspeksi keselamatan, sehingga bertempat pada dinas energi yang mendukung transisi ke sumber energi bersih.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman, menambah informasi mengenai jadwal uji coba menyeluruh di Lemigas. Ia menginformasikan bahwa sampel tabung CNG 3 kg akan diserahkan ke laboratorium Lemigas pada akhir Juli 2026, setelah demonstrasi di fasilitas kompresor tinggi. Hasil tersebut akan menjadi indikator utama memutuskan pergantian ke pasar, serta menetapkan parameter keamanan dan efisiensi energi.

Gas Lokal Mendorong Transisi

Sementara uji coba teknologi berlangsung, rencana peluncuran populasi belum dirinci secara spesifik. Namun, dihadapan rencana uji pilot, Laode menekankan pentingnya aspek keselamatan dan mekanisme distribusi yang tepat sebelum dipasarkan ke konsumen. Uji coba pertama diproyeksikan di kota besar di Jawa Barat, kemudian dilanjutkan ke pangeoan swnas berpotensi penerimaan tinggi. Tujuan inti adalah menguji “safety‑first” di lingkungan ramai dan mengevaluasi sistem distribusi serta logistik agar siap saat CNG beralih secara massal.

Konsumsi LPG nasional mencapai 8,5 juta ton per tahun, namun hanya 1,8-1,9 juta ton yang diproduksi di dalam negeri. Akibatnya, 75-80 % kebutuhan bersumber dari impor, menimbulkan beban subsidi tenaga yang terus meningkat. Penurunan ketergantungan akan melalui pengalihan ke CNG, yang dapat didasarkan pada cadangan gas alam Indonesia, terutama metana-etana (C1‑C2). Ada estimasi ladang gas baru oleh ENI di Kalimantan Timur, dengan volume 5 triliun kaki kubik (TCF) berpotensi menambah pasokan.

Potensi pasokan gas internal diperkirakan mampu memenuhi hampir 800 MMSCFD kebutuhan penggantian LPG. Sementara itu, kecepatan produksi antara 2028‑2029 akan menetapkan pasokan berskala tertinggi di Indonesia. Dengan daya reaktor nasional yang melimpah, transisi energi menjadi lebih terjangkau secara ekonomi dan minimal berdampak pada harga akhir konsumsi.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa strategi ini tidak hanya mengurangi pressel subsidi multibln, tetapi juga mengoptimalkan keuntungan infrastruktur nasional. Pengembangan tabung CNG 3 kg secara massal diharapkan dapat menjangkau pelanggan ritel sekaligus industri, mengurangi dampak ekonomi impor, dan meningkatkan resilien energi domestik untuk jangka panjang.

Artikel Terkait

0