BeritaLokal, Jakarta – Bahlil Yakin Harga Hidrogen Bakal Makin Kompetitif, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia pada Jumat, 20 April 2026, mengungkapkan komitmen pemerintah Indonesia untuk menurunkan biaya hidrogen hingga setara dengan bahan bakar fosil tradisional. Ia menekankan bahwa dinamika geopolitik global dan peningkatan efisiensi teknologi akan menjadi kunci utama penurunan harga tersebut, sekaligus membuka peluang bagi sektor transportasi untuk beralih ke sumber energi bersih. Dengan latar jejaknya sebagai mantan Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Pembangunan Manufaktur, Bahlil menegaskan sendiri bahwa perkiraan penurunan biaya ini memperlihatkan prediksi realistis bagi industri otomotif nasional.
Selanjutnya, Bahlil menjelaskan keputusannya berdasarkan analisis biaya penggunaan hidrogen untuk kendaraan besar. Ia menyatakan bahwa biaya operasional sistem hidrogen masih lebih tinggi dibandingkan dengan bahan bakar B50 non-PSO, yakni sekitar Rp 18.600 per liter. Di sisi lain, satu liter B50 mampu menempuh jarak 3,5 hingga 4 km saat dioperasikan pada bus berkapasitas besar, sementara satu liter hidrogen memerlukan teknologi sel bahan bakar yang lebih komprehensif dan belum sepenuhnya optimalkan jarak tempuh. Identifikasi kesenjangan harga ini menjadi landasan strategis pemerintah dalam mengarahkan investasi pada pembangunan infrastruktur hidrogen dan R&D sel bahan bakar.
Perbandingan Hidrogen Baterai
Bahlil dilaporkan saat mempertemukan halur kebijakan di Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 di JICC Senayan, Jakarta. Ia menyatakan bahwa penurunan biaya hidrogen akan memicu persaingan ketat dengan kendaraan listrik berbasis baterai dalam waktu 5 hingga 10 tahun. Meskipun teknologi sel bahan bakar telah ada sejak lama, tantangan masif terletak pada penurunan biaya produksi dan kenaikan skalabilitas kontainer hidrogen. Kehadiran ratusan negara di hub global tersebut menegaskan komitmen dunia untuk mendistribusikan teknologi terobosan ini, sekaligus mengubah lanskap persaingan kendaraan berbrand baru.
Bahlil menguraikan beberapa faktor yang mempersiapkan transisi industri: pertama, ketidakpastian geopolitik yang menambah volatilitas harga minyak; kedua, laporan industri global menunjukkan penurunan tarif produksi hidrogen berkat penggunaan infrastruktur penghasil listrik terbarukan; dan ketiga, peningkatan efisiensi proses elektrolisis di kawasan Asia yang secara signifikan menurunkan konsumsi energi per kilogram hidrogen. Ia menilai bahwa kombinasi faktor ini akan mempercepat perolehan ketersediaan hidrogen murah, menghilangkan nilai komparatif dibandingkan BBM konvensional.
Strategi Konversi Energi Bersih
Mengaitkan kebijakan dengan visi nasional, Bahlil menegaskan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menuntut konversi kendaraan bermotor ke sumber energi baru terbarukan. Ia menegaskan bahwa konversi motor terbarukan menjadi satu komponen penting bagi kebijakan energi bersih Indonesia. Dalam konteks itu, Bahlil menekankan bahwa pemerintah berusaha memperluas kapasitas produksi hidrogen lokal melalui kerjasama dengan perusahaan energi beserta inovasi teknologi, guna mengurangi ketergantungan impor minyak dan minuman tradisional. Di papan antara, muncul daftar kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi tersedianya infrastruktur in-kind: fasilitas penyimpanan, pengisian, serta sistem transportasi hidrogen komersial.
Pengaruh geopolitik bermula pada perdebatan teknologinya, di mana Jepang dan Korea Selatan memimpin dalam pengembangan aplikasi hidrogen, sementara China memanjatkan posisi dominan pada ruang lingkup EV battery. Di balik forum internasional, Bahlil menyatakan bahwa keseluruhan upaya kemitraan transformasi energi harus berpusat pada ketahanan nasional dan pengurangan emisi karbon. Seiring berjalannya waktu, ia menargetkan bahwa untuk dua dekade ke depan, Indonesia dapat mengkonversikan setidaknya 20% kendaraan berat menjadi menggunakan sistem hidrogen tempatan, setara dengan investasi sebesar 5,2 triliun rupiah.
Akhirnya, Bahlil menegaskan keyakinannya bahwa Bahlil Yakin Harga Hidrogen Bakal Makin Kompetitif tidak hanya menjadi sekadar pernyataan optimis, melainkan hasil penyelidikan data pasar, keberadaan infrastruktur, dan potensi ekonomi skala tinggi. Pendorong utama penurunan biaya ini meliputi biaya produksi teknologi, kuantitas konsumen, serta dinamika harga bahan bakar global yang lebih volatile. Sebagai bagian dari rencana transisi energi bersih, penurunan biaya hidrogen diproyeksikan menjadi penopang utama bagi Indonesia dalam memposisikan diri sebagai pusat inovasi energi terbarukan dan mencapai target kendaraan bermotor emulsif rendah karbon di masa depan.
Artikel Terkait
Internet 3T: Platform Global Wajib Berkontribusi
27 Juli 2026
Garuda Indonesia Jadi Holding BUMN, Harga Tiket Bisa Turun
27 Juli 2026
PLN EPI Dorong Ekosistem Hidrogen Hijau Nasional
26 Juli 2026
Pembiayaan Hijau Dipacu Perbaikan Tata Kelola BPDLH
26 Juli 2026
Jasamarga Luncurkan Transformasi Tollroad Command Center
24 Juli 2026
Purbaya Usahakan Aturan KEK Lebih Ramah Produsen Lokal
23 Juli 2026
Maia Estianty Bicara Nostalgia Rel Kereta
23 Juli 2026
Zaskia Adya Mecca Antar Anak Sekolah Motor, Bikin Panik
22 Juli 2026
Memuat komentar...