BeritaLokal, Jakarta – Harga Emas Dunia Stabil, Investor Menanti Kebijakan The Fed, berlanjut menampilkan pasar yang tetap tenang meski ketegangan di Timur Tengah dan pernyataan Fed menambah ketidakpastian. Pada sesi perdagangan akhir Senin, harga spot emas menahan diri pada US$ 4.006,74 per ons, turun tipis 0,2 % dibandingkan hari sebelumnya. Harga kontrak berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga sedikit melemah, menurun 0,1 % menjadi US$ 4.015,90 per ons, menandai ketenangan sementara di pasar logam mulia.
Atas kondisi umum yang menimpa pasar modal global, trader menilai bahwa fluktuasi harga emas masih terkait secara invers dengan dinamika harga minyak. Pihak analis UBS, Giovanni Staunovo, menegaskan bahwa “harga emas bergerak berlawanan dengan harga minyak, sehingga pelaku pasar tetap memperhatikan pergerakan di Timur Tengah.” Kondisi ini tercermin pula pada pergerakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran akan potensi kenaikan inflasi di tingkat makroekonomi.
Perkembangan terhenti pada sekuritas geopolitik terjadilah ketika pasukan AS menyelinap hingga hari kesembilan berturut‑turut di wilayah Iran. Setiap aktivitas militer mengarah pada peningkatan risiko gangguan di jalur pelayaran Selat Hormuz, yakni pintu keluar penting bagi perdagangan minyak dunia. Seperti yang dilaporkan, dua kapal tanker minyak Iran mengalami ledakan dan tidak dapat beroperasi, mengingatkan pasar akan kemungkinan penyusutan suplai energi dan kejutan harga. Ada pula tanda-tanda mula meredanya tekanan minyak, karena pembicaraan diplomatik antara Iran dan Washington tampak memuncak dapat dimanifestasikan melalui pertukaran kemampuan negosiasi.
Hubungan langsung menuju inflasi muncul ketika kenaikan harga minyak diterjemahkan menjadi tekanan ekonomi yang lebih luas. Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar semakin memperkirakan bahwa suku bunga acuan di AS akan tetap terjaga tinggi lebih lama. Hal ini menjelaskan mengapa pernyataan beberapa pejabat The Fed, termasuk Beth Hammack, presiden Bank Federal Reserve Cleveland, mencuat baris ketegangan kebijakan moneter berikutnya. Ia menegaskan bahwa “suku bunga kemungkinan masih perlu dinaikkan untuk mengendalikan inflasi yang masih membandel,” menambah keyakinan bahwa kebijakan moneter akan berlanjut ketat menjelang pertemuan berikutnya.
Menurut data CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada forum pertemuan Desember kini diperkirakan mencapai 80 %, meningkat dari 73 % pekan sebelumnya. Angka ini memicu pergerakan pasar logam mulia yang cenderung tergugah oleh ekspektasi suku bunga masa depan. Namun, pada sisi lain analisis UBS menegaskan optimisme jangka menengah: pelemahan dolar AS, yang diprediksi akan terus berlanjut dalam enam hingga 12 bulan ke depan, akan menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga emas.
Konteks kebijakan ini menempatkan emas sebagai aset lindung nilai, meskipun kurang menarik secara intrinsik karena tidak memberikan imbal hasil. Dalam lingkup ini, ekspektasi pasar akan melihat sentimen kuat bagi dolar AS serta pergeseran pada harga minyak yang masih membekas. Karena itu, para analis menyoroti bahwa risiko volatilitas penggerak nilai tukar EUR-USD atau USD-JPY masih menimbulkan ketidakpastian, namun dalam kondisi apa‑pun yang menguntungkan, emas tidak pernah menghilangkan daya tariknya.
Sementara itu, proyeksi teknis menegaskan bahwa pada jangka menengah, emas berpotensi kembali menembus level US$ 5.000 per ons. Paus taat pada dinamika forex dikabarkan dapat memperlembut nilai dolar Amerika, menyebabkan logam mulia menguat. Alasan di balik prediksi tersebut adalah loh. Sementara tren global menunjukkan elok terhadap emas, kenaikan harga minyak berada kembali ke kondisi median. Inilah yang menegaskan bahwa volatilitas lingkungan geopolitik dan kebijakan moneter di AS akan tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi pasar emas di masa mendatang.
Artikel Terkait
Rupiah Turun ke 18.083 per Dolar, Pasar Antisipasi Fed
28 Juli 2026
Harga Emas 24 Karat Runtuh, Antam, Pegadaian, Hartadinata Menurun
28 Juli 2026
Harga Emas 28 Juli 2026: Resistance US$4.089 Menguat
28 Juli 2026
Rupiah Tegar Tambah Lebih 18,093, Pasar Tunggu Gubernur BI
28 Juli 2026
Nilai Rupiah Turun ke 18.070 di Tengah Geopolitik
28 Juli 2026
Harga Emas Antam Turun Rp 9.000, Cek Lengkap 28 Juli 2026
28 Juli 2026
Minyak Dunia Turun Tajam, Pasar Mereda
28 Juli 2026Gubernur BI Baru Menjaga Stabilitas Rupiah
28 Juli 2026
Memuat komentar...